17 May 2020, 06:15 WIB

Muncul Kasus Baru Covid-19, Wuhan Kembali Terapkan Lockdown


Deri Dahuri | Internasional

OTORITAS Tiongkok kembali memberlakukan lockdown sejumlah kompleks perumahan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, yang dikenal sebagai sumber asal wabah virus korona baru atau Covid-19 dan telah menyebar secara global.

Pemberlakukan lockdown untuk kedua kalinya di Wuhan sebagai langkah antisipasi mencegah pandemi Covid-19 gelombang kedua.

Kepada media Radio Free Asia (RFA), Zhang Zhan, wartawan yang berkantor di Kota Wuhan, melaporkan munculnya kasus baru virus korona di Kompleks Perumahan Sanmin yang dihuni 5.000 orang yang di berada di Kota Wuhan.

Zhan terus menelusuri mengenai adanya kluster baru pandemi Covid-19 di kompleks perumahan. “Saya sudah mendatangi ke lokasi tersebut untuk mendapat informasi lebih banyak tentang situasi saat ini tetapi lokasi telah diterapkan lockdown,” ucapnya.

"Ada polisi di luar di jalan sekarang menjaga tempat itu, dan tidak ada kendaraan yang diizinkan masuk,” ucap Zhang.

“Saya bertanya kepada seorang warga yang tak jauh dari kompleks ‘berapa banyak orang yang dibawa dengan ambulans’ dan dia memberi tahu kepada saya bahwa 180 orang dibawa untuk dikarantina,” papar Zhang.

Zhang mengatakan, warga dari kompleks itu tidak diizinkan kembali ke rumah mereka. Penerapan lockdown juga diberlakukan di Kompleks Perumahan Sanyanqiao, juga berada di wilayah Kota Wuhan.

Menurut Zhang, lockdown kembali diterapkan di beberapa kompleks. "Ada juga pengumuman online yang mengatakan bahwa pengemudi pengiriman tidak diizinkan memasuki kompleks tertentu," jelasnya. "Ada tanda-tanda kebangkitan epidemi di Wuhan," tambahnya.

Media lokal melaporkan enam kasus baru di Wuhan pada Minggu (9/5) dan Senin (10/5) yang terdiri dari pria yang berusia 89 tahun dan istrinya serta empat orang lainnya. Enam orang yang dinyatakan positif Covid-19 telah melakukan kontak dengan 180 orang lainnya yang kini sudah masuk karantina.

Sejak kembali diberlakukan lockdown di Wuhan, perusahaan jasa pengiriman telah mengumumkan kepada para pelanggannya bahwa pengiriman barang ditunda mulai 12 Mei 2020 di delapan distrik di Wuhan di antaranya Dongxihu, Wuchang, Jiangxia, Jiang'an, dan Hongshan .

Untuk mencegah gelombang kedua pandemi Covid-19, pemerintah Kota Wuhan kembali melakukan rapid test dengan target semua warga yang mencapi 11 juta.

Kepada RFA, seorang warga mengatakan,"Pemerintah kota menyerukan pusat pencegahan epidemi untuk melakukan tes kepada warga dan setiap wilayah administrasi akan memberi tahu kepada komite lingkungan di kompleks untuk melakukan tes asam nukleat dari warga.”

Warga lain lain mengatakan,"Setiap komite distrik dan lingkungan harus mendaftarkan dengan membawa kartu tanda penduduk untuk melakukan tes asam nukleat. Tes tanpa dipungut biaya.”

"Ini hanya untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Tiongkok  benar-benar telah mengendalikan epidemi, seperti yang dikatakannya," tambahnya.

Pusat Penelitian Virus Korona Universitas Johns Hopkins melaporkan bahwa secara resmi, di Tiongkok tercatat memiliki 84.029 kasus Covid-19 dan 4.637 orang meninggal.

Yang sempat menghebohkan adalah laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Wuhan yang merevisi laporan data resmi. Semula melaporkan korban meninggal akibat Covid-19 sebanyak 2.579 orang menjadi 3.869 orang.

Revisi data angka kematian akibat Covid-19 di Tiongkok sempat membuat pemerintah Amerika Serikat bereaksi. Presiden Donald Trump menyebut Tiongkok tidak transparan soal data korban meninggal dan berusaha menutupi wabah Covid-19.   

Seorang warga Liu Pe'ien, yang ayahnya meninggal karena penyakit itu, menyatakan jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi. Dia mengatakan kepada ITV News, "Jumlah sebenarnya harus 10 kali lebih tinggi dari jumlah yang dilaporkan.”

"Jumlah korban tewas sekarang adalah 2.500 orang. Jumlah sebenarnya di Wuhan harus lebih dari 20.000 orang," jelas Liu.

Kota Jilin juga terapkan lockdown

Pemberlakukan lockdown juga dilakukan di Kota Jilin, Provinsi Jilin, Tiongkok yang berbatasan  dengan wilayah Korea Utara dan Rusia.

Wakil Wali Kota Jilin, Gai Dongping, mengatakan,"Situasi Covid-19 saat ini cukup kompleks dan parah, dan ada risiko besar bahwa virus akan menyebar lebih luas.”

"Untuk menghentikan penyebaran epidemi, kami telah memutuskan untuk menerapkan langkah-langkah dengan pengendalian di daerah perkotaan Jilin," tambah Gai. (The Guardian/RFA/OL-09)

BERITA TERKAIT