17 May 2020, 07:10 WIB

Berbagi Makanan Berbuka saat Pandemi


Dede Susianti | Ramadan

NUANSA kebersamaan tetap kental terasa dari cara Yayasan Vihara Dhanagun saat melakukan kegiatan sosialnya di kala pandemi. Berlokasi di Jalan Suryakancana Bogor atau seberang pintu utama Kebun Raya Bogor (KRB) ini, yayasan itu tetap mengadakan kegiatan yang sudah menjadi rutinitas di kala Ramadan, yakni berbagi takjil, santunan, buka puasa, dan sahur bersama.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pihak yayasan biasa mengundang ratusan anak yatim, difabel, dan warga awam penerima bantuan ke wihara. Mereka ‘ngampar’ (lesehan) dengan sajian menu nasi liwet yang dialasi daun pisang atau kertas nasi. Terasa lebih nikmat.

Sebelum makan besar, diawali bersantap aneka takjil seperti kolak dan kurma. Ratusan orang makan bersama, dilanjutkan dengan salat magrib berjemaah di halaman wihara tersebut.

Kini saat wabah masih berlangsung, cara berbeda harus diterapkan. Tradisi itu harus dijalankan sesuai protokol kesehatan, yaitu jaga jarak sosial (social distancing) dan jaga jarak fi sik (physical distancing).

Namun demikian, rasa kebersamaan yang terjalin akhir pekan lalu itu tidak berkurang.

Dari awal prosesnya hingga akhir dilakukan bersama-sama meski kegiatan itu diinisiasi warga atau komunitas Tionghoa. “Jadi, kebiasaan ini tidak dihilangkan meski saat ini kita sedang di masa pandemi. Hanya konsep dan skemanya yang diubah. Kita lakukan social distancing,”ungkap Guntur Santoso, salah satu pengurus.

Mereka membuat dapur umum di wihara. Setiap Selasa dan Jumat, sejumlah orang dari berbagai suku dan agama memasak bersama.

Sedikitnya 250 nasi bungkus disiapkan dari dapur itu selama Ramadan. Setelah dikemas, tim tim pembagi pun bersiap. Beberapa waktu menjelang magrib, tim itu pun beraksi.

Mereka menggunakan kendaraan membagikan nasi bungkus tanpa berhenti lama dan keluar dari kendaraan. Itu dilakukan untuk menghindari kerumunan dan jarak terjaga dengan warga penerima.

Frankie Sibbald, Wakil Ketua Yayasan Vihara Dhanagun, menuturkan gerakan kemanusiaan itu, khususnya pembagian nasi bungkus, berawal dari obrolan santai di Wihara Dhanagun. Empati untuk berbagi terhadap sesama pun muncul.

Pertama ada yang mendonasikan gas dan beras untuk masak. Ada pula yang memberikan uang dengan besaran berbeda-beda. Ada yang Rp100 ribu, kemudian ada juga yang sampai Rp2 juta.

“Yang memeloporinya Pak Yuti, pimpinan Himpunan Persaudaraan Umat Vihara Dhanagun. Dana semua berasal dari umat dan orang-orang yang peduli ingin berbagi kepada saudara-saudara kita,” ungkapnya.

Dijelaskan, metode pemberian nasi bungkus kini berubah seiring dengan penerapan PSBB dan bulan Ramadan.

Kalau sebelumnya nasi bungkus dibagikan di depan wihara pada siang hari, kini diberikan beberapa waktu menjelang buka puasa. Tak hanya sampai di situ. Mereka juga membagikan paket sembako. Sudah 800 paket sembako telah dibagikan. (Dede Susianti/H-1)

BERITA TERKAIT