17 May 2020, 06:30 WIB

Lembaga Pendidikan Filter Teknologi Digital


Indriyani Astuti | Humaniora

PENGGUNAAN teknologi digital menjadi peluang dan tantangan bagi Indonesia. Tidak mengherankan bila Wakil Presiden Ma’ruf Amin berharap lembaga pendidikan menjadi filter dari berbagai pemanfaatan teknologi digital dan mengajarkan cara memanfaatkan teknologi digital secara sehat. Harapan itu disampaikan dalam orasi ilmiah virtual dies natalis ke-56 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Jakarta, kemarin.

Menurut data dari PEW Research Center tahun 2019, pengguna ponsel pintar aktif di Indonesia diperkirakan sekitar 42% atau lebih dari 100 juta orang pada 2018. Dengan jumlah itu, Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif ponsel pintar terbesar ke-4 di dunia, setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Jika digabungkan dengan pengguna ponsel biasa, jumlah pengguna di Indonesia mencapai 70% dari total penduduk atau 175 juta orang.

“Besarnya adopsi penggunaan teknologi digital tersebut di Indonesia tentu saja membawa peluang dan sekaligus juga tantangan,” ucapnya.

Teknologi juga mampu mendorong pertumbuhan industri, ekonomi digital, pariwisata, termasuk UMKM. “Peluang itu tentu harus dapat dimanfaatkan dengan baik oleh lembaga pendidikan tinggi agar menciptakan lulusan yang dapat memanfaatkan teknologi digital ini,” kata Wapres.

Sayangnya, teknologi digital juga memberikan tantangan. Apalagi, dengan perkembangan media sosial, berbagai pesan mudah tersebar, termasuk hoaks, pesan anti- Pancasila, radikalisme, terorisme, dan intoleransi.

“Karena itu, saya berpesan agar lembaga pendidikan, termasuk UNJ, dapat menjadi fi lter dari berbagai pemanfaat an teknologi digital dengan tujuan negatif itu. Ajarkan cara memanfaatkan teknologi digital secara sehat. Terus kampanyekan pesan positif dalam kampus, terutama terkait bela negara, patriotisme, cinta sesama, dan toleransi,” tukasnya. (Ind/P-5)

BERITA TERKAIT