17 May 2020, 05:45 WIB

Pandemi Covid-19 tidak Jelas Kapan Hilang


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

SELURUH warga diingatkan untuk tidak terseret arus isu pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terkait pandemi virus korona baru (covid-19). Penting pula dipahami bahwa wabah itu tidak bisa dijadwalkan kapan menghilang.

Meski demikian, menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dengan kajian keilmuan yang berbasis sains, semua pihak justru bisa mengupayakan agar pandemi berangsur lenyap.

Untuk mengukur seberapa parah penyebaran virus, para epidemiologis menggunakan satuan R0 (R nought). R0 di Jakarta pada Maret atau saat tingginya penularan mencapai angka 3,5-4,5. Bisa dibaca bahwa satu orang positif covid-19 dapat menularkan ke 3,5 orang sampai 4,5 orang.

“Sementara di April hingga hari ini, R0 DKI sudah 1,2 dan ada yang mengukur 0,9. Kita longgarkan bila di bawah satu karena artinya sudah tidak ada penularan walau potensi ada. Virus tidak ada jadwal. Jadi, jangan terbawa wacana pelonggaran,” kata Anies di sela-sela diskusi virtual, kemarin.

Anies menegaskan akan secara bertahap memulai pelonggaran PSBB setelah angka R0 di bawah satu. Artinya, rencana pelonggaran
tidak bisa diputuskan berdasarkan perkiraan semata.

Ia pun khawatir, jika terburu-buru melonggarkan, Jakarta justru akan mengalami hal yang sama seperti negara-negara di Eropa saat pandemi flu spanyol satu abad yang lalu.

Anies meminta kesediaan masyarakat bertahan sebentar lagi dengan tetap berada di rumah. “Kita bertahan, tetapi dengan optimisme bisa segera dituntaskan. Setelah R0 di bawah satu, kita mulai masa transisi.”

Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Arifin, mengatakan Pemprov DKI melarang warga Jakarta untuk keluar dari wilayah Jabodetabek. Sebaliknya, warga dari luar Jabodetabek juga dilarang masuk ke Jakarta.

Arifin menuturkan bisa saja warga dari luar Jabodetabek masuk ke Jakarta dan begitu pula dengan warga Jakarta yang hendak keluar Jabodetabek. Syaratnya mengantongi surat izin keluar-masuk (SIKM).

Melunak

Kepala Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya Teguh P Nugroho menyayangkan sikap pemerintah pusat yang melunak dan kembali mengizinkan warga bepergian keluar kota meski dengan beberapa persyaratan.

Teguh memandang tidak perlu ada pelonggaran PSBB di bidang apa pun sampai kasus covid-19 benar-benar sudah berhenti bertambah. “Masyarakat ini sebetulnya siap menderita tiga minggu, sebulan, asalkan pemerintahnya tegas dan konsisten terhadap kebijakannya. Sekarang bagaimana masyarakat mau siap kalau pemerintah terus bergantiganti kebijakan,” tukasnya.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo menyebut sebanyak 19.153 kendaraan yang hendak keluar Jabodetabek diminta berputar. Angka pelanggar larangan mudik Lebaran 2020 itu merupakan akumulasi selama tiga pekan pelaksanaan Operasi Ketupat Jaya.

Kemarin, Juru Bicara Nasional untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan terdapat penambahan pasien yang sembuh sebanyak 108 orang sehingga total pasien sembuh menjadi 3.911 orang.

Selain itu, terdapat penambahan pasien positif sebanyak 529 orang dengan akumulasi menjadi 17.025 orang, serta pasien meninggal bertambah 13 orang sehingga menjadi 1.089 orang. (Tri/Ata/J-3)

BERITA TERKAIT