17 May 2020, 05:15 WIB

Nabi Mencontohkan Toleransi


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

NABI tidak hanya menganjurkan toleransi terhadap penganut agama lain, tetapi mencontohkannya sekaligus. Banyak tokoh hanya bisa bicara toleransi, tetapi dalam sikap dan tindakannya berbeda dengan apa yang sering dibicarakannya.

Nabi dan para sahabat tidak pernah sedikit pun ragu untuk bekerja sama dan bertoleransi dengan orang-orang non-Islam karena dasarnya di dalam Alquran bergitu banyak dan begitu tegas.

Di antara ayat-ayat itu ialah: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang meme rangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS al-Mumtahinah/60: 7 - 8).

“DAN jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar
firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS
al-Taubah/9: 6).

Dalam praktik, Nabi pernah didatangi delegasi non muslim (Nasrani) Najran, Negeri Yaman sekarang, bertanya kepada Nabi tentang Isa ibn Maryam. Lalu Nabi menjawab Dia adalah ruhullah wa kalimatuhu, dan dia hamba dan rasul-Nya. Kelopmok pemuda itu berkata: Apakah engkau siap kami cemooh jika kamu keliru? Nabi menanggapi: Apakah itu yang kalian kehendaki? Mereka menjawab: Ia. Kemudian pemimpin mereka datang menegur mereka dengan mengatakan: Jangan cemooh orang ini karena jika kalian melakukannya, kita akan dihancurkan. Setelah itu, ia meminta maaf kepada Nabi dan memintakan maaf juga kepada warganya yang lancang itu. Nabi mengatakan: Aku sudah memaafkan kalian.

Safwan ibn Sulaiman meriwayatkan bahwa Nabi pernah mengatakan: “Barang siapa yang menzalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu’ahhad) atau mele cehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupannya, atau mengambil hartanya tanpa persetujuannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian.” (HR Bukhari-Muslim)

Nabi juga banyak mencontohkan memberikan keprihatinan dan bantuan terhadap nonmuslim, terutama bagi mereka yang berasal dari golongan tidak mampu. Sikap belas kasih Nabi itu dicontoh juga oleh para sahabatnya.

Umar ibn Khaththab pernah berjumpa seorang kakek tua buta nonmuslim sedang meminta-minta. Umar bertanya dari ahli kitab mana engkau? Dijawab: Dari agama Yahudi. Umar membawa kakek tua buta itu ke rumahnya dan Umar membuatkan memo ke Baitul Mal yang isinya: “ Tolong perhatikan orang ini dan semacamnya. Demi Allah, kita tidak menyadari kalau kita telah memakan hartanya lalu kita mengabaikannya di masa tuanya. Sesungguhnya sedekah untuk para fakir miskin. Kaum fakir miskin itu ada dari kaum muslim dan ini dari kaum Yahudi.”

BERITA TERKAIT