17 May 2020, 03:15 WIB

Shanty Paredes Ajak Disiplin Karantina Mandiri


Fetry Wuryasti | Humaniora

PERBINCANGAN hangat membeludaknya penumpang di Bandara Soekarno-Hatta beberapa hari lalu menjadi perhatian penyanyi yang kini berdomisili di Hong Kong, Shanty Paredes.  Perempuan bernama lengkap Annissa Nurul Shanty yang terkenal sebagai VJ MTV di akhir era 1990-an itu ikut menyayangkan hilangnya penerapan physical distancing di saat wabah covid-19 masih mengkhawatirkan. Kondisi itu pun seperti menyia-nyiakan perjuangan orang-orang memerangi wabah tersebut.

“Jadi, sebenarnya saya ingin bilang kepada orang-orang Indonesia, patuh saja dulu. Mungkin pemerintah kurang saklek/tegas. Tapi, kita sebagai masyarakat sadar diri saja terlebih dulu. Kita semua berkorban. Sebagai warga harus patuh dengan aturan-aturan dari pemerintah,” kata Shanty dalam perbincangan live Instagram bersama sesama mantan VJ MTV, Sarah Sechan, melalui akun @sarsehshoku dan @shantyparedes. Tayangan pada Jumat (15/5) itu merupakan yang perdana dalam program yang mereka beri nama Cicih Vs Esih.

Shanty yang berdomisili di Hong Kong sejak menikah dengan Sebastian Paredes pada 2010 pun berkaca pada kondisi yang terjadi di kota itu. Perempuan yang sudah menghasilkan 5 album itu mengungkapkan jika wabah di Hong Kong sudah berangsung menurun. Sejak pertengahan April, jumlah kasus baru covid-19 di Hong Kong memang tinggal hitungan jari, bahkan dalam beberapa hari tidak ada kasus baru.

Perempuan berusia 41 tahun itu melihat kunci keberhasilan penekanan wabah di sana ialah karena kepatuhan masyarakat. “Kondisi di Hong Kong alhamdulillah sudah membaik. Karena menurut saya, saat di Hong Kong sedang merebak covid-19, orang-orang tinggal di rumah,” tuturnya.

Menurutnya, kepatuhan warga terkait dengan penanggulangan pandemi cukup baik walau dalam sejak tahun lalu terjadi demo antipemerintah. Dengan kedisiplinan untuk tinggal di rumah itu pula Hong Kong dapat menurunkan kasus covid-19 meski tidak melakukan lockdown. Shanty berharap kedisiplinan juga dapat dijalankan masyarakat di Indonesia. 


Sekolah di rumah 

Seperti para ibu lainnya dengan anak usia sekolah, Shanty juga menjalani peran sebagai guru pendamping di rumah bagi anak-anaknya selama masa karantina mandiri. Shanty memiliki dua anak lelaki, yakni Juno yang duduk di kelas 4 SD dan Enrico yang masih di taman kanak-kanak.

“Buat saya, home schooling itu menantang karena tekniknya beda sama kita dahulu. Mereka lebih rumit. Bahkan, pernah saya tertukar meng-upload dan mengirim e-mail antara tugas Enrico dan Juno,” cerita perempuan yang mendapat nominasi pemeran wanita terbaik Festival Film Indonesia 2006 lewat film Berbagi Suami itu.

Meski ritme kehidupannya berubah akibat pandemi, Shanty mencoba mengambil hikmah karena dapat menghabiskan waktu
lebih banyak dengan keluarga. “Tapi alhamdulillah, dengan adanya karantina mandiri, walaupun mau mengomel bagaimanapun, tapi hubungan keluarga menjadi tambah dekat. Dengan home schooling, saya menjadi tahu level pendidikan anak-anak di mana,” tambahnya. Sebelum pandemi terjadi, Shanty memang masih sering berkunjung ke Indonesia untuk melakukan berbagai kegiatan keartisan. (M-1)

BERITA TERKAIT