17 May 2020, 02:55 WIB

Kopi Lima Detik


MI | Humaniora

HADIR pada awal 2019, Kopi Lima Detik berawal dari sebuah produk yang dihadirkan di restoran Eightynine. Pemiliknya, Audi Riri Mestika Rachman, bercerita karena permintaan dari pembeli termasuk laris, akhirnya produk ini dia gagas menjadi outlet.

Nama Lima Detik diambil karena menunjukkan pengharapan jika sajian kopi mereka akan tandas dalam 5 detik karena nikmatnya. Demi kesempurnaan rasa, mereka juga me-roasting (memanggang) sendiri biji kopinya. “Tadinya roasting kami titip. Kami membeli biji kopi lalu titip roasting ke pihak lain. Akhirnya, kini ditangani sendiri karena kita merasa yang memengaruhi rasa kopi itu selain barista, cara brewing, juga proses roasting punya andil. Makanya kita roasting sendiri, rasa yang ingin kita keluarkan dari beans itu apa. Sesuai dengan taste kita,” ujar Riri.

Varian untuk kopi kekinian mereka, antara lain kopi rasa pisang (Kopisang Lima Detik), berupa kopi yang diberikan sirop pisang glutenfree. Tenang saja, rasa kopinya tetap terasa karena proses roasting-nya mampu mengeluarkan rasa fruitiness dari biji kopi. 

Meski begitu, keseluruhan rasa varian memang menjadi cenderung manis karena siropnya. Ada pula es kopi medan malam berupa campuran espreso, sirop kurnia espreso, dan soda. Rasanya hampir mirip Fanta, tetapi disertai rasa pahit kopi dan lebih sedikit gula.

Mereka juga menyediakan minuman green booster, berupa campuran sayur sawi, buah nanas, dan gula cair. Ini cocok bagi penikmat minuman bukan kopi. Meski warnanya hijau, rasa nanas mendominasi. (Try/M-1)

 

BERITA TERKAIT