17 May 2020, 00:35 WIB

Dilarang Mudik


Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend

KARNA Basusena tidak menyangka kerinduan kepada keluarganya di kampung halaman kandas. Sukses kariernya menjadi adipati di Awangga dan senapati di Negara Astina ia harapkan menjadi kabar membanggakan bagi orangtuanya. Akan tetapi, yang terjadi justru kebalikannya.

Bapaknya, Adirata, meradang dan melarang Karna mudik karena dianggap mengidap virus kotor duniawi. Adirata tidak ingin anak tunggalnya itu mudik meski hanya sementara untuk melepas kangen. Baginya, keberhasilan Karna bukan berkah, melainkan musibah. Kenapa demikian, karena anak yang sejak bayi ia dambadambakan dewasanya menjadi kesatria sejati yang membela kebenaran dan menegakkan keadilan itu ternyata malah bersekutu dengan Kurawa yang zalim.


Berguru ke Ramabargawa

Alkisah, Adirata dari Petapralaya menjalani laku prihatin di pinggir Sungai Gangga memohon anugerah Sanghyang Widhi. Ia berharap memiliki putra setelah sekian lama pernikahannya dengan Nadha belum dikaruniai anak. Untuk ikhtiarnya itu, ia mengambil cuti panjang dari profesinya sebagai kusir kereta kuda milik Maharsi Bhisma, paranpara Negara Astina.

Pada suatu sore, setelah berminggu-minggu nelangsa di tepi Gangga yang dianggap suci itu, tiba-tiba Adirata melihat kendaga hanyut terbawa arus. Yang membuatnya terpana, benda serupa kotak terbuat dari kayu itu memancarkan sinar ajaib. Adirata segera menceburkan diri ke sungai dan mengambil kendaga tersebut lalu bergegas pulang.

Betapa kagetnya ia bersama istri ketika mengetahui bahwa isinya bayi berjenis kelamin laki-laki. Di lehernya terdapat kalung, di daun telinganya ada anting-anting, serta badannya mengenakan semacam pakaian perang. Bayi itu kemudian mereka ambil sebagai putra dan diberi nama Karna Basusena.

Adirata dan Nadha menggulawentah Karna seperti buah hati sendiri. Mereka mendidik dengan penuh kasih sayang. Ketika mulai menginjak usia anak-anak, Karna dicekoki ajaranajaran luhur dan budi pekerti. Kedua orangtuanya menggadanggadangnya kelak menjadi kesatria sejati.

Karna tumbuh menjadi pemuda sentosa dan tampan. Di sisi lain, ia juga haus akan ilmu, termasuk yang berkaitan dengan kesaktian dan kanuragan. Guna memenuhi dahaganya itu, ia meminta izin orangtua untuk pergi keluar kampung mencari ilmu sebagai bekal masa depannya.

Semula, Karna ingin nyantrik (berguru) di Padepokan Sokalima yang dipimpin Begawan Durna. Namun, karena dianggap berkasta rendah (sudra), maka ia ditolak. Apalagi, sejak awal didirikan, Sokalima memang hanya dikhususkan untuk para pangeran trah Abiyasa, yakni Pandawa dan Kurawa.

Penolakan itu membuat Karna kecewa, tapi tidak mematahkan semangatnya. Dalam hatinya ia bertekad ingin lebih pintar dan sakti daripada para siswa Sokalima. Setelah hilir-mudik mencari tempat belajar terbaik, akhirnya Karna menjatuhkan pilihan berguru kepada Ramabargawa di Pertapaan Dewasana.

Selama menjadi siswanya Ramabargawa, Karna sangat disiplin dan memiliki semangat belajar sangat tinggi. Semua ilmu ia serap dengan sepenuh hati. Ia praktikkan pula setiap hari. Singkat cerita, Karna menguasai strategi perang dan mahir menggunakan senjata, khususnya melepaskan jemparing.


Patahkan panah Arjuna

Pada suatu ketika, Durna menggelar pendadaran (ujian) bagi para siswa Sokalima di alun-alun Astina. Tujuannya ialah mengetahui sejauh mana Pandawa dan Kurawa menyerap pelajaran, terutama taktik berperang. Dari seluruh evaluasi, Arjuna muncul sebagai siswa terbaik dalam memanah.

Dalam acara penutupan, Durna meminta Arjuna memamerkan kepintarannya melepaskan seribu panah dalam waktu bersamaan.
Ketika anak-anak panah melesat ke langit, satu per satu anak panah itu patah tersambar anak panah yang dilepaskan oleh seseorang dari arah berlawanan.

Semua orang yang melihat peristiwa itu kaget sekaligus terharu, sedangkan Arjuna merasa dipermalukan. Ia lalu memburu biang yang dianggapnya telah ngilani dhadha-nya (meremehkannya). Orang yang dicari itu ternyata Karna.  Dialah  yang menghancurkan panah Arjuna tanpa satu pun yang meleset. Maka, terjadilah perselisihan. Namun, sebelum ada yang menjadi korban, Durna melerainya. Massa pun kemudian beramairamai mengusir Karna. Teriakan dengan kata-kata sudra terus menghujaninya. Ketika langkahnya belum jauh, ia disusul Duryudana yang didampingi sang paman, Sengkuni.

Duryudana membujuk Karna bergabung dengan Kurawa agar tidak dianggap sudra. Atas izin ayah Kurawa, Destrarastra, Karna
diberi tempat tinggal di Kadipaten Awangga. Kegalauan Karna luruh. Ia menerima semua itu. Sebagai balas budi, Karna bersumpah hidup-matinya dipersembahkan kepada Duryudana.

Seiring berjalannya waktu, Duryudana menjadi raja di Astina. Ia berkuasa secara inkonstitusional. Takhta itu sejatinya milik Pandawa sebagai ahli waris almarhum Prabu Pandudewanata. Sengkuni, think tank-n ya Kurawa, diangkat menjadi patih, sementara Karna dilantik sebagai panglima perang.

Karna, yang semula anak kampung dan dari kelas bawah, kini menjadi orang berpangkat dan terhormat. Ia menjadi nayakapraja dengan jabatan prestisius. Bukan itu saja, ia juga dijadikan penguasa Awangga.

Pada suatu ketika, Karna ingin mudik ke Petapralaya dan sungkem kepada orangtuanya. Ia juga bermaksud mengabarkan keberhasilannya menjadi orang berpangkat di Astina. Dalam bayangannya, bapak dan ibunya akan senang dan bangga atas keberhasilan putra mereka meniti karier politik.

Nadha menyambut dengan sukacita rencana putranya mudik. Apalagi, ia sudah lama memendam rasa kangen kepada anaknya itu. Ia pun menyiapkan aneka makanan dan penganan kesukaan Karna di kala masih tinggal di kampung.


Teracuni Kurawa

Namun, sikap Adirata bertolak belakang dengan Nadha. Ia melarang anaknya mudik ke Petapralaya karena tidak ingin virus kotor duniawi yang meracuni Karna menulari seluruh orang kampung. Baginya, keberhasilan yang berupa pangkat dan kedudukan yang didapat Karna pantas diratapi.

Adirata mengaku kecewa kapada Karna karena telah melenceng dari ajaran mulia. Kesaktian dan pusaka dalam genggamannya seharusnya dipersembahkan untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan dunia. Bukan malah untuk mendukung Kurawa, rezim zalim dan serakah.

Pada akhirnya Karna tidak jadi mudik. Penolakan ayahnya itu membuatnya sadar. Namun, ia tidak ingin dianggap sebagai orang mencla-mencle atau tidak berpendirian. Maka, ia tetap pegang teguh sumpahnya mendukung Duryudana hingga akhir hayat. Inilah yang ia yakini sebagai watak kesatria. (M-2)

BERITA TERKAIT