16 May 2020, 14:00 WIB

​​​​​​​Afghanistan Tangkap Pemimpin IS


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PASUKAN keamanan Afghanistan menangkap tiga anggota senior Islamic State (IS) Asia Selatan termasuk pemimpin regional kelompok militan tersebut, kata pemerintah.

Direktorat Jenderal Keamanan Nasional (NDS) dan Kementerian Dalam Negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan, kepala IS Asia Selatan, Abu Omar Khorasani, ditangkap di Kabul bersama dengan kepala mata-mata dan pejabat hubungan masyarakat IS.

"NDS akan melanjutkan operasinya yang komprehensif dan ditargetkan untuk memburu para pemimpin senior kelompok-kelompok teroris regional dan menghancurkan pusat bersama dari jaringan-jaringan teroris ini," kata pernyataan itu.

IS Asia Selatan terutama berfokus pada kehadiran kecil di Afghanistan, sebagian besar di utara, meskipun telah melakukan serangan profil tinggi lebih jauh ke selatan di ibu kota.

Pasukan keamanan Afghanistan menangkap delapan anggota jaringan IS dan gerilyawan Haqqani yang bertanggung jawab atas serangan berdarah di ibu kota termasuk pada jemaah Sikh, kata badan keamanan negara itu Rabu lalu.

Kekerasan yang sedang berlangsung menggarisbawahi tantangan untuk mengamankan perdamaian abadi di Afghanistan setelah Amerika Serikat menandatangani perjanjian penarikan pasukan dengan gerilyawan Taliban pada Februari.

Taliban, yang mengatakan menentang IS dan telah memerangi kelompok itu, telah menyetop serangan besar-besaran terhadap pasukan asing atau di pusat-pusat utama, meskipun terus menyerang pasukan keamanan Afghanistan di seluruh provinsi.

Baca juga: Burundi Usir Pejabat WHO Koordinator Respons Covid-19

Pada Senin lalu, ada empat ledakan di tepi jalan di ibu kota yang melukai empat warga sipil, termasuk seorang anak, menurut polisi Kabul. Tidak ada grup yang langsung mengaku bertanggung jawab.

Bentrokan di provinsi timur Laghman antara pasukan keamanan dan Taliban menewaskan enam anggota pasukan keamanan dan melukai lima lainnya, menurut Haroon Yousufzai, seorang juru bicara militer setempat. Kementerian Pertahanan mengatakan Taliban juga menderita banyak korban.

Pemerintah Afghanistan dan kekuatan asing termasuk Amerika Serikat telah menyerukan mereka untuk mengurangi kekerasan, dengan mengatakan hal itu menghambat kemajuan menuju pembicaraan damai formal. (Ahramonline/A-2)

 

BERITA TERKAIT