16 May 2020, 08:27 WIB

Harga Minyak Terangkat Terdorong Tanda-Tanda Permintaan Naik


Antara | Ekonomi

HARGA minyak mentah AS melonjak ke level tertinggi sejak Maret pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), di tengah menguatnya permintaan bahan bakar karena negara-negara di seluruh dunia melonggarkan pembatasan perjalanan yang telah diberlakukan untuk mengekang penyebaran virus korona.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni berakhir naik US$1,87 atau 6,8% menjadi US$29,43 per barel, mundur dari tertinggi sesi US$29,92, tertinggi sejak pertengahan Maret. WTI juga melonjak 9,0% di sesi sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik US$1,37 atau 4,4% menjadi menetap di US$32,50 per barel. Brent naik hampir tujuh persen pada sesi perdagangan Kamis (14/5).

Selama sepekan, minyak mentah AS (WTI) melonjak 19,7% dan minyak mentah Brent naik 5,2% setelah diguyur dengan berita-berita bullish. Kedua kontrak meningkat untuk minggu ketiga berturut-turut.

Kontrak bulan kedua untuk minyak mentah AS diperdagangkan dengan diskon ke bulan pertama untuk pertama kali sejak akhir Februari, menyiratkan ketatnya pasar, kata Bob Yawger, direktur berjangka energi di Mizuho di New York.

"Bukan kebetulan spread berubah setelah penyimpanan minyak mentah EIA, dan penyimpanan di situs pengiriman NYMEX di Cushing, keduanya mencatat peningkatan penarikan penyimpanan pertama mereka dalam beberapa minggu dalam laporan penyimpanan Rabu (13/5)," katanya.

Baca juga: Emas Melonjak US$15,4, Cetak Keuntungan Empat Hari Berturut-Turut

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen besar lainnya telah memotong produksi untuk mengurangi kelebihan pasokan, dan sekarang ada juga tanda-tanda peningkatan permintaan. Data menunjukkan penggunaan minyak mentah harian Tiongkok rebound pada April karena kilang-kilang meningkatkan operasi.

Namun, pasar tetap berhati-hati dengan pandemi virus korona yang masih jauh dari selesai dan klaster-klaster infeksi baru muncul di beberapa negara di mana penguncian telah diperlonggar.

"Harga minyak telah naik secara signifikan sejak kemarin berkat penilaian situasi yang lebih baik oleh Badan Energi Internasional (IEA)," kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

IEA memperkirakan persediaan minyak mentah global turun sekitar 5,5 juta barel per hari (bph) di paruh kedua. IEA juga memperkirakan permintaan minyak tahun ini turun 8,6 juta barel per hari, lebih kecil 690.000 barel per hari dari penurunan yang diperkirakan bulan lalu. Pasokan non-OPEC juga diperkirakan turun 3,2 juta barel per hari.

Barclays menaikkan perkiraan untuk Brent dan WTI sebesar US$5-US$6 per barel untuk 2020 dan US$16 per barel untuk 2021. Sekarang terlihat harga Brent rata-rata US$37 per barel dan WTI pada US$33 tahun ini. Untuk 2021, bank memperkirakan Brent rata-rata US$53  per barel sementara WTI rata-rata US$50.

"Besarnya ukuran dan kecepatan gangguan dan persediaan akan membutuhkan waktu untuk sepenuhnya diserap, dalam pandangan kami," analis Barclays Amarpreet Singh mengatakan dalam sebuah catatan.

Pada Rabu (13/5), Badan Informasi Energi AS mengatakan persediaan minyak mentah negara itu turun secara tak terduga. Ini mengurangi risiko bahwa harga akan anjlok menjelang kontrak bulan depan yang berakhir pekan depan.

"Dengan penarikan ini, itu tidak akan sama berbahayanya dengan yang terakhir kali" kata John Kilduff, seorang mitra di Again Capital Management di New York. Menjelang berakhirnya kontrak bulan lalu, ketakutan akan kekurangan penyimpanan mendorong kontrak ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Namun, para pelaku pasar tetap gelisah tentang tanggal jatuh tempo kontrak yang akan datang, kata Kilduff. (A-2)

BERITA TERKAIT