16 May 2020, 07:50 WIB

Sainstek Lindungi Data Pribadi


(Ihfa Firdausya/H-3) | Humaniora

TERSEBARNYA data digital merupakan keniscayaan di era serbainternet (internet of things/IoT). Kewaspadaan dalam menggunakan platform digital menjadi hal yang penting dengan memperhatikan perlindungan data pribadi. Disadari atau tidak, profi l kita bisa dibangun dari informasi yang kita berikan, misalnya saat menggunakan aplikasi e-commerce dan fintech. Data-data itu bisa berupa nama, nomor telepon, alamat, nomor identitas, hingga data lokasi.

Menurut Sekretaris Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Satriyo Wibowo, berbagai aplikasi yang menawarkan suatu kemudahan dan tersedia secara gratis acap kali membuat orang lupa bahwa ada hal yang harus dibayar, yakni data pribadi. "Contoh paling gampang, kita sehari-hari selalu mengecek Google Maps, cari lokasi atau alamat. Contoh lain, saat work from home, suka belanja online apa. Itu adalah profil yang dibangun," jelasnya saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

"Kalaupun Anda memilih bersifat ekstrem untuk menghilangkan data pribadi di internet, bisa juga. Namun, dalam kondisi sekarang, pasti banyak kesulitan sehingga kita harus berdamai dengan itu," tutur Satriyo. Ia menambahkan bahwa mitigasi perlindungan data pribadi perlu diperhatikan. Hal-hal sederhana bisa dilakukan untuk meminimalisasi risiko buruk penyalahgunaan data. Hal pertama yang harus disadari, kata Satriyo, dalam dunia digital sekarang, mau tidak mau ada beberapa data pribadi yang harus diberikan kepada platform. Kuncinya, kita harus melihat kewajaran data yang diminta. "Misalnya, platform marketplace, saya harus kasih alamat karena seumpama orang ngirim barang kan ke rumah. Kecuali Anda punya pos satpam, boleh ditaruh di situ, enggak kasih lokasi rumah," terangnya. Selanjutnya ialah memperhatikan perizinan akses aplikasi (apps permission). Ketika hendak menjalankan aplikasi, kita harus melihat syarat-syarat izin akses. "Kalau enggak masuk akal, ya sudah dioffkan saja. Jika aplikasi itu keukeuh enggak mau jalan tanpa menyalakan suatu permission dan sebenarnya kita tahu bahwa apps-nya enggak berhubungan dengan permission yang diminta, berarti dia (mau) mencuri/mengumpulkan data," jelas Satriyo.

Selanjutnya, memeriksa dan selalu meng-update sistem keamanan di perangkat yang kita gunakan. Menurut Satriyo, kemungkinan terjadi peretasan pada sebuah platform besar meskipun mereka telah melakukan upaya-upaya perlindungan.

"Ketika ada risiko hilangnya data kita di dalam platform, berarti kita harus siap melindungi diri kita. Pertama, pakai MFA (multifactor detection), itu untuk pengamanan terhadap akun. Kedua, device-device yang kita punya, seperti smartphone, TV, atau lainnya yang sekarang sudah IoT harus rutin di-update," jelasnya.

"Seumpama ada (rekomendasi) update keamanan, (segera) update. Jadi, dari sisi security-nya naik levelnya. Jangan mikir hand phone saya jadi tambah berat. Memang ada risiko itu, tetapi paling tidak kita mengurangi risiko yang lain dari sisi security-nya," imbuhnya.

Berikutnya ialah back-up data. "Yang ditakutkan dari bocornya data pribadi kita adalah serangan Ransomware. Seumpama terjadi serangan Ransomware, misal laptop Anda terkunci, Anda enggak bisa apa-apa, terpaksa harus diformat ulang, di-install ulang. Kalau enggak punya data back-up, ya sudah tidak bisa apa-apa lagi," imbuhnya. Terakhir, menghindari permintaan (request) yang mencurigakan. "Misal, ada tawaran yang menggiurkan, dapat undian ini. Pokoknya kita harus berpikirnya enggak akan ada sesuatu yang ree,"pungkasnya. (Ihfa Firdausya/H-3)

BERITA TERKAIT