16 May 2020, 07:05 WIB

Barang Menumpuk Banyak Pangan Kedaluwarsa


ATALYA PUSPA | Humaniora

MAKANAN kedaluwarsa mendominasi ratusan ribu produk pangan tidak memenuhi ketentuan (TMK) yang ditemukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1441 Hijriah. "TMK ini didominasi makanan kedaluwarsa. Berdasarkan analisis kami, peningkatan ini disebabkanmenumpuknya barang di distributor karena tidak terserap pasar dan melemahnya demand.

Banyak ritel tutup akibat adanya kebijakan PSBB," kata Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan POM Reri Indriani, Jumat (15/5). Tercatat ada 290.681 pieces (pcs) produk pangan yang tidak memenuhi ketentuan dari 1.197 sarana distribusi. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan di 2019 yang berjumlah 72.994 pcs. Dari jumlah itu, produk pangan kedaluwarsa yang ditemukan sebanyak 246.498 pcs atau mencapai 85%-nya. Temuan pangan kedaluwarsa banyak ditemukan di Manokwari, Sorong, Mimika, Morotai, dan Aceh Tengah dengan jenis pangan minuman serbuk, minuman berkarbonasi, mentega, wafer, dan makanan ringan.

"Total nilai ekonomi produk TMK pada 2020 berjumlah Rp654,3 juta. Ini memang lebih rendah jika dibanding dengan di 2019 yang mencapai Rp1,2 miliar. Ini semakin menguatkan analisis kami bahwa distributor lebih mengeluarkan bahan pokok karena masyarakat lebih memilih kebutuhan pokok saat ini," sebut Reri Indriani. Selain kedaluwarsa, Badan POM juga menemukan 29.748 pcs produk pangan tidak memiliki izin edar (TIE) dan rusak 14.435 pcs. Jenis pangan TIE yang ditemukan, seperti bahan tambahan pangan (BTP), teh, roti, makanan ringan, dan sirup.

Untuk pangan rusak, terdiri atas pangan minuman berperisa, susu, krimer, biskuit, dan makanan ringan. Untuk pengawasan pangan jajanan berbuka puasa, sebagian besar temuan mengandung formalin (45%). Bahan berbahaya tersebut terdapat dalam kudapan, minuman berwarna, makanan ringan, mi, lauk pauk, bubur, dan es. Kepala Badan POM Penny Lukito menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengawasan agar masyarakat dapat mengonsumsi makanan yang aman dan sehat.

Penjualan daring

Selain hasil pemantauan fisik, Reri Indriani menyampaikan Badan POM sudah melakukan take down 1.373 situs penjualan pangan di toko daring selama Januari hingga April 2020. Selama Ramadan, ia mencatat adanya peningkatan jumlah situs yang menjual pangan dan tidak memenuhi syarat. "Pelanggaran yang ditemukan itu bermacam-macam, baik yang menjual barang kedaluwarsa maupun tanpa izin edar," ungkapnya.

Badan POM juga memantau adanya peningkatan penjualan obat secara daring, khususnya yang terkait dengan covid-19. "Untuk itu, kita perketat pengawasan," ungkap Deputi Bidang Pengawasan Obat dan Napza Badan POM, Rita Endang. (H-2)

BERITA TERKAIT