16 May 2020, 06:25 WIB

Ibadah, Bukti Cinta kepada Allah SWT


IHFA FIRDAUSYA | Ramadan

RASA cinta merupakan salah satu hal terpenting yang ada di dalam hidup manusia. Tanpa cinta, kehidupan manusia akan menjadi hampa. Namun, perlu diperhatikan bahwa cinta tertinggi atau puncak cinta ialah kecintaan kitakepada Allah SWT.

Tema tentang bagaimana caranya agar Allah SWT bisa mencintai kita menjadi bahasan dalam Kajian Ramadan Masjid Nursiah Daud Paloh, Jakarta Barat, oleh Ustaz Muhammad Fikri Aziz, MA, kemarin. Ustaz Fikri mengatakan pembuktian cinta tersebut harus ditunjukkan dengan beribadah hanya kepada Allah SWT. Ibadah, lanjutnya, merupakan puncak dari rasa cinta kepada Allah SWT.

Sementara itu, sebagaimana dikatakan para ulama, ibadah yang dilakukan seorang manusia tidak akan sempurna jika tidak didirikan di atas tiga fondasi utama. "Pertama al mahabbah atau rasa cinta, kedua al khauf atau rasa takut, dan ketiga ar raja' atau rasa harap. Inilah tiga fondasi utama berdirinya ibadah seorang hamba," jelas Ustaz Fikri. Ketika ibadah seorang hamba kehilangan salah satu dari tiga fondasi yang mulia ini, ibadah yang ia kerjakan tidak akan sempurna.

Para ulama terdahulu mengatakan, barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan bermodalkan al mahabbah atau rasa cinta, ia merupakan seorang yang munafik; barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya bermodalkan rasa harap, ia akan menjadi seorang Murji'ah; dan barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya bermodalkan rasa takut, ia merupakan orang Haruri.

"Dan barang siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta, rasa takut, dan rasa harap, orang inilah yang disebut dengan orang yang beriman dan menauhidkan Allah SWT," tuturnya. Tiga hal ini merupakan fondasi terpenting bagi ibadah kita, sementara rasa cinta bagi ibadah kita ibarat roh bagi jasad.

"Karena rasa cinta inilah yang akan menggerakkan hati seorang manusia untuk mau mengorbankan apa pun yang ia miliki, dari harta, waktu, tenaga, hingga jiwa. Ia mampu korbankan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT," kata Ustaz Fikri. Rasa takut dan rasa harap, lanjutnya, ibarat dua sayap yang akan menerbangkan manusia menuju kepada amalan-amalan yang dicintai Allah SWT dan menjauhkan dirinya dari perkara-perkara yang dimurkai Allah SWT.

Namun, mengaku diri sebagai orang yang mencintai Allah SWT bukanlah suatu keistimewaan karena semua orang yang ada di dunia ini, bahkan orang musyrik sekalipun, mengaku mencintai Allah. Orang-orang beriman ialah orang yang lebih mencintai Allah. "Para ulama menjelaskan maksud lebih mencintai Allah dalam dua pendapat.

Pertama, bahwasanya orang-orang beriman lebih mencintai Allah dibandingkan orang-orang yang melakukan kesyirikan," katanya. "Orang beriman hanya memberikan cinta dan peribadatan mereka kepada Allah. Kedua, orang beriman lebih mencintai Allah SWT daripada kecintaan orang musyrik kepada sesembahan mereka," jelasnya. Pada intinya, kata Ustaz Fikri, tanpa dicintai Allah

SWT sekalipun cinta yang kita miliki besar, kita tidak akan mendapatkan apa pun dari kecintaan kita tersebut. (H-3)

BERITA TERKAIT