16 May 2020, 07:00 WIB

Relaksasi PSBB di Tengah Pandemi


Yordan Khaedir Dosen Fakultas Kedokteran UI, Doktor Imunologi dari Chiba University, Jepang, Dokter Relawan Covid-19 RSKD Duren Sawit DKI Jakarta | Opini

PERNYATAAN Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu tentang kesiapan rakyat Indonesia untuk hidup damai dengan virus korona SARS-Cov-2 mungkin tidak bisa dikatakan tak masuk akal. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sudah berjalan kurang lebih satu bulan telah mengurangi angka kasus terkonfi rmasi positif covid-19 di beberapa wilayah. Bahkan, di sejumlah provinsi tidak lagi ditemukan kasus baru.

Akan tetapi, masih diperlukan perhitungan cermat dan keakuratan data untuk menyimpulkan kesiapan Indonesia memulai relaksasi PSBB.

Worldometer Covid-19, Kamis (14/5), mencatat lebih dari 15.400 kasus positif dan 1.028 kematian di Indonesia.

Jumlah ini diperkirakan masih terus meningkat, bahkan beberapa ahli epidemiologi mewaspadai kemungkinan gelombang kedua penularan SARS-Cov-2 yang bisa datang setiap saat.


Prediksi akhir pandemi

Wacana pemerintah untuk melaku kan relaksasi PSBB menimbulkan beberapa pertanyaan seperti sudah tepatkah memulai relaksasi PSBB saat ini?

Benarkah berdamai dengan virus ialah jalan terbaik? Bagaimana rakyat menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian (uncertainty)?

Pelonggaran PSBB dilakukan bertujuan memulai pemulihan ekonomi dengan cepat setelah tertekan oleh adanya pembatasan pergerakan manusia yang dilaksanakan untuk mengerem laju infeksi dan tingkat kematian serta memberikan harap an kepada rakyat bahwa kondisi akan membaik.

Beberapa hal mungkin bisa dijadikan pelajaran saat Indonesia memulai relaksasi PSBB seperti relaksasi lockdown yang dilakukan Tiongkok, Spanyol, Italia, Jerman, dan Selandia Baru. Namun, perlu diingat, negara-negara itu telah membatasi aktivitas sosial dan fi sik warga mereka secara ketat, bahkan draconian lockdown guna mencegah munculnya kasus baru.

Sebagian besar negara di dunia melakukan strategi penutupan total area berkumpul publik, seperti pasar, restoran, taman, dan kegiatan bisnis nonesensial lainnya. Moda transportasi massal pun ditutup agar penduduk berdiam diri di rumah. Hanya rumah sakit dan aktivitas yang berhubungan dengan suplai kebutuhan pokok diberikan izin untuk dibuka.

Berbagai institusi seperti UI, ITB, dan UGM telah memprediksi berakhir nya pandemi covid-19 di Indonesia dengan waktu yang bervariasi, yakni akhir Mei dan Juni 2020. Singapore University of Technology and Design bahkan memprediksikan akhir pandemi covid-19 di Indonesia pada Oktober 2020.

Hidup berdamai dengan SARSCov- 2 bukan hal yang mustahil dilakukan. Untuk itu pemerintah perlu menyusun skenario strategi exit plan yang terencana dan terukur sehingga tidak membahayakan rakyatnya.


Syarat relaksasi PSBB

Sangat tidak bijak jika pemerintah hanya mengacu pada data penurunan kasus baru di Indonesia saat ini. Data-data tersebut terlalu prematur untuk dijadikan pedoman pelonggaran PSBB.

Ada beberapa syarat minimal yang perlu dijadikan parameter bagi relaksasi PSBB. Pertama ialah pola transmisi (penularan) virus yang sudah terkontrol dengan baik. Diperlukan data surveilans yang tercatat baik untuk dijadikan pedoman pemerintah dalam mengambil strategi preventif yang efektif.

Kedua ialah ketersediaan ruang rawat inap di rumah sakit dan tenaga kesehatan yang mencukupi bagi pasien covid-19. Ketiga ialah kemampuan melakukan uji diagnostik SARSCoV- 2 secara cepat dan akurat. Hal ini sangat penting karena pasien terkonfirmasi akan segera mendapatkan perawatan yang cepat dan efektif.

Keempat, kemampuan yang baik pada penelusuran (trace) dan penanganan individu (treat) yang melakukan kontak erat dengan suspect covid-19.

Kelima ialah strategi pencegahan kasus impor yang berpotensi menginfeksi agar tidak menyebabkan penularan yang kontinu.

Terakhir ialah masyarakat yang teredukasi dan siap menjalani kehidupan new normal yang dibatasi jarak dan kontak fisik antarindividu.


Ketersediaan vaksin dan risetnya

Pada akhirnya, kebijakan pembatasan jarak sosial dan fisik mungkin saja berakhir dengan ketersediaan vaksin covid-19 yang menjadikan manusia kebal terhadap infeksi SARS-Cov-2. Vaksin yang efektif, yaitu vaksin yang mampu spesifi k mengenali SARS-Cov-2, tapi juga mampu merangsang sel imunitas tubuh untuk mengeliminasi virus dari sejak awal proses infeksi.

Sebelum diproduksi massal, vaksin harus melewati dan lolos uji laboratorium, uji coba pada hewan, serta uji klinis fase akhir pada manusia. Idealnya, produksi vaksin paling cepat 12-18 bulan atau akhir 2021 bila mengacu pada WHO.

Menurut data WHO, Selasa (5/5), saat ini terdapat 100 kandidat vaksin dalam uji praklinis dan delapan pada uji klinis. Hal ini merupakan lompatan besar dalam penelitian vaksin dan pemerintah harus mendukung ilmuwan dalam negeri untuk berkolaborasi dengan riset internasional sehingga transfer ilmu pengetahuan dan teknologi akan terjadi.

Pertukaran informasi berupa materi genetik vaksin, misalnya, masih diperlukan dengan tetap memperhatikan perjanjian kerja sama yang seimbang dan tidak merugikan salah satu pihak. *Era pandemi mengharuskan perubahan total kehidupan manusia.

Berbagai protokol baru dibuat untuk pencegahan penularan infeksi guna menyelamatkan manusia. *Protokol ini bisa jadi memberikan dampak interaksi sosial. Penggunaan masker di setiap aktivitas di luar rumah dan rutinitas kegiatan mencuci tangan akan menjadi bagian dari new normal.

Pembatasan ketat masih terus dilakukan pada kelompok usia bayi dan usia lanjut yang rentan terinfeksi covid-19. Mengingat jumlah kasus yang masih fluktuatif di beberapa wilayah RI, maka pembatasan yang diatur secara geografis dilakukan untuk memulai pelonggaran PSBB.

Faktor penentu keberhasilan kebijakan relaksasi PSBB ini ialah kemauan dan kemampuan rakyat bersama-sama dengan pemerintah berjuang menjadi negara pemenang.

Negara yang mampu mengatasi pandemi dengan tetap mempertahankan stabilitas politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

BERITA TERKAIT