16 May 2020, 04:20 WIB

Hubungan AS-Tiongkok Terus Memburuk


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemunduran hubungan negaranya lebih lanjut dengan Tiongkok terkait virus korona baru. Trump menyatakan tidak berminat untuk berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat ini.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network, kemarin, Trump mengatakan bahwa dia sangat kecewa dengan kegagalan Tiongkok untuk mengekang penyakit itu.

“Mereka seharusnya tidak pernah membiarkan ini terjadi,” kata Trump.

“Saya memiliki hubungan yang sangat baik (dengan Xi), tetapi saat ini saya tidak ingin berbicara dengannya,” kata Trump. “Saya sangat kecewa dengan Tiongkok. Saya memberi tahu Anda itu sekarang,” ujarnya.

Saat ditanya bagaimana AS mungkin akan membalas Tiongkok, Trump tidak memberikan jawaban spesifi k. Namun, ia mengatakan bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan.

“Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa melakukan banyak hal. Kita bisa memutus seluruh hubungan,” katanya.

“Jika Anda melakukannya, apa yang akan terjadi? Anda akan menghemat US$500 miliar,” kata Trump merujuk pada perkiraan impor tahunan AS dari Tiongkok.

Ketegangan antara Washington dan Beijing meningkat terkait masalah asal-usul wabah penyakit yang pertama kali muncul pada akhir 2019 di Kota Wuhan, Tiongkok. Amerika Serikat merupakan negara yang paling parah terdampak pandemi. Trump selama berminggu-minggu menuduh Tiongkok menyembunyikan skala sebenarnya dari wabah itu dan membiarkannya menyebar ke seluruh dunia. Beijing pun dengan keras membantah tuduhan itu.


Tolak prioritas

Seorang pejabat tinggi Prancis kemarin menolak jika Amerika Serikat diberikan keistimewaan ke akses vaksin virus korona baru. Wakil Menteri Keuangan Agnes Pannier-Runacher menyebut upaya semacam itu tidak dapat diterima.

Komentar Pannier-Runacher datang sehari setelah perusahaan farmasi Prancis, Sanofi , menyarankan perusahaan itu dapat memprioritaskan pemberian vaksin covid-19 yang berhasil dikembangkan ke AS sebelum negara lain.

Dalam sebuah wawancara, CEO Sanofi Paul Hudson mengatakan AS memiliki hak untuk pemesanan di muka yang terbesar karena investasinya dalam mengambil risiko. Pemerintah AS memperluas kemitraan dengan Sanofi awal tahun ini dan Hudson, yang telah m njabat sejak tahun lalu, mengatakan Washington berharap memiliki akses pertama ke vaksin yang berhasil diciptakan.

Menteri Prancis menghubungi Sanofi setelah pernyataan Hudson mengundang banyak kritik dari orang-orang yang terkait dengan sistem perawatan kesehatan negara itu.

“Bagi kami, itu tidak dapat diterima karena ada akses istimewa ke negara ini dan itu untuk alasan keuangan,” kata Pannier-Runacher.

Perusahaan Inggris Glaxo Smith Kline telah bermitra dengan Sanofi dan didanai sebagian oleh AS untuk pengembangan vaksin potensial untuk covid-19, yang telah merenggut hampir 300.000 jiwa dan menginfeksi lebih dari 4,36 juta di 188 negara. Namun, uji klinis belum dimulai dan obat yang dihasilkan diprediksi tidak mungkin muncul ke publik sebelum akhir 2021. (AFP/Hym/X-11)

BERITA TERKAIT