15 May 2020, 22:43 WIB

BI: Defisit Neraca Perdagangan akibat Pandemi Covid-19


Despian Nurhidayat | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) menyatakan bahwa perlambatan neraca perdagangan Indonesia April 2020 dikarenakan melambatnya permintaan dunia, terganggunya rantai penawaran global, serta rendahnya harga komoditas sejalan dengan dampak pandemi covid-19 yang merebak ke seluruh dunia.

Seperti yang diketahui bahwa defisit US$ 344,7 juta, setelah pada bulan sebelumnya surplus US$ 715,7 juta. Meskipun defisit, secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia Januari-April 2020 tetap surplus US$ 2,25 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya defisit US$ 2,35 miliar.

Baca juga:Sepanjang Pandemi, Pengguna BNI Mobile Banking Meningkat 84%

"Defisit neraca perdagangan April 2020 dipengaruhi defisit pada neraca perdagangan nonmigas dan migas. Neraca perdagangan nonmigas defisit US$100,9 juta pada April 2020, menurun dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya surplus US$1,67 miliar," ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko dilansir dari keterangan resmi, Jumat (15/5).

Lebih lanjut, perkembangan tersebut akibat penurunan kinerja ekspor produk manufaktur dan bahan bakar mineral, khususnya batu bara. Kinerja positif ekspor emas, besi dan baja, serta minyak dan lemak nabati dapat menahan penurunan ekspor nonmigas yang lebih dalam.

Sementara itu, neraca perdagangan migas pada April 2020 defisit US$ 243,8 juta, lebih rendah dari defisit pada bulan sebelumnya sebesar US$ 953,3 juta. Penurunan defisit ini terutama dipengaruhi oleh penurunan impor migas sejalan dengan penurunan harga migas.

Baca juga:Pemerintah Diminta Konsisten Mengawal Pembayaran THR

"Ke depan, BI terus mencermati dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia, termasuk neraca perdagangan, serta terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal," pungkasnya. (Des/A-3)

BERITA TERKAIT