16 May 2020, 00:10 WIB

Emas Hitam di Kebun Lapar


Abdillah Marzuqi | Humaniora

LEBIH baik tidak terpaku pada judul. Boleh jadi isi dalamnya akan sangat berbeda. Babad Kopi Parahyangan, novel itu bukan hendak melulu fokus bercerita sejarah kopi di Tanah Parahyangan, melainkan akan menarasikan kisah manusia dan kemanusiaan.

Secara gamblang, novel ini akan membawa pembaca pada kisah pemuda bernama Karim yang berasal dari Batang Arau. Ia kerap bersua dengan si Pelaut yang memberikan banyak cerita tentang pengalaman hidup, dari pertarungan hidup-mati, kencing di celana karena ketakutan, hingga kopi dari Parahyangan. Hal terakhir itulah yang membuat Karim bergetar. Makin tak terbendung tekadnya untuk menjadi bandar dagang kopi ternama.

Apa hanya karena ingin kaya dan menjadi bandar besar yang membuat Karim bergelut dengan komoditas yang disebut ‘emas hitam’ tersebut? Tidak juga. Ada bumbu asmara yang turut mempertajam tekadnya. Ia jatuh cinta dengan Uni Fatimah, seorang pemilik kedai. Pemuda 19 tahun itu memulai kehidupan seusai ditolak halus oleh perempuan pujaan yang usianya sebaya dengan amak-nya. Cukup mengaduk. Begitulah bagian pertama novel itu berakhir.  

Cerita berlanjut pada perjalanan Karim ke Pulau Jawa. Ia menum­pang kapal uap ke Batavia. Si Pelaut menjadi nakhoda. Dalam perjalanan itu ia bertemu rupa-rupa manusia, salah satunya Ote, budak kapal dari Nias.

Saat babak di kapal, penulis Evi Sri Rezeki memanfaatkan latar tersebut untuk menarasikan sejarah kopi. Melalui mulut si Pelaut yang sudah dimasuki jenewer dan candu, sejarah kopi diceritakan ulang. Si Pelaut menyajikan hamparan narasi kopi dari pengembala kam­bing Khaldi, sufi bernama Ali bin Omar Al-Shadu yang merebus kopi di atas pangkuan paha, Kiva Han kedai kopi yang disebut pertama di dunia, hingga Baba Budan yang berhasil menyelundupkan kopi ke India Selatan. Cerita itu pula yang mengantar pada nama besar dalam bincang kopi dunia, kopi mocha, yang nantinya mendapat perlawanan keras dari kopi java. Sekaligus menjadi peng­antar ‘emas hitam’ itu memasuki Pulau Jawa. ‘Hanya sekali si Pelaut menyatakan dengan terang sebuah tahun yang menurutnya istimewa, tahun 1696. Tahun pertama kopi menjejak Pulau Jawa. Tahun yang menandai perjalanan Parahyangan menuju titik nadir. Tanah kami, tanah kami... si Pelaut bergumam-gumam’ (hlm 42).

Hingga mendaratlah Karim di Batavia. Perjalanannya makin dekat ke Parahyangan. Karena novel ini juga tentang manusia, maka akan banyak kejadian yang dialami Karim di Batavia. Pergulat­an batinnya dengan cita-cita dan perantauan yang membekapnya dengan ketidaksenonohan. Semua itu juga turut membentuk mental Karim sebagai sosok manusia.


Latar cerita

Nyatanya, novel ini banyak menyiratkan angka-angka menarik dan patut ditelusuri. Sudah jadi rahasia bersama bahwa seakurat apa pun novel berkisah sejarah, tetaplah itu novel.

Angka tahun yang disajikan pengarang menjadi kunci untuk memasuki latar zaman yang terjadi masa itu. Seperti keberangkatan Karim merantau ke Tanah Parahyangan pada 1819, yakni ketika Stamford Raffles mendarat di Singapura. Tahun itu pula, tentara kolonial Belanda diusir dari Palembang.

Evi banyak menyajikan narasi pergulatan kopi dari mulut si Pelaut. Nama-nama seperti Daendels, Jansens, dan Raffles. Tentunya yang menjadi latar dari novel ini ialah Johannes van den Bosch, yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor, khususnya kopi, tebu, teh, dan tarum (nila). Perturan itu dikenal dengan sistem Tanam Paksa.

Cerita kemanusiaan mendapati puncaknya dalam bagian ini. Sekitar sepuluh bagian terakhir dari 18 bagian novel setebal 348 halaman ini.

Karim pun menumpang kereta pos yang dikusiri Ujang hingga sampai ke Cianjoer. Kala itu, kabupaten itu ialah penghasil kopi terkemuka, bahkan tercatat sebagai penyetor kopi pertama pada Kompeni dari Tanah Parahyangan saat Raden Aria Wira Tanu III berkuasa. Namun, kebanggan kopi juga menjadi derita bagi rakyatnya dalam masa yang disebut Koffie Stelsel atau Preanger Stelsel.

Ketika Karim menginjakkan kaki ke Parahyangan, para petani tengah mengubur nyawa di bawah rumpun kopi. Di Cianjoer, Karim bersapa dengan Euis, seorang tabib perempuan dari Tatar Sunda. Selain itu ada beberapa tokoh yang dumunculkan seperti kepala cacah Kang Asep, administratur perkebunan kopi Raden Arya Kusumah Jaya, dan mandor perkebunan Satria.

Kisah tragis kehidupan di masa Tanam Paksa disajikan. Kelaparan, penyiksaan, kemiskinan, bahkan kematian menjadi hukuman bagi yang berani melarikan diri dari perkebunan kopi. Kematian pun belum cukup, mayat mereka ditelantarkan begitu saja seolah bukan manusia.  Di dalam perkebunan, mereka terpaksa bertahan tertindas. Bukan pilihan memang.

Novel ini memang tidak didaulat untuk berbincang soal kopi, tetapi tentang sejarah kemanusiaan yang ditelantarkan akibat terpukau kilau ‘emas hitam’. ‘Ini bukan sekadar kisah mengenai kopi, ini sejarah kemanusiaan di Parahyangan pada masa Tanam Paksa, zaman saat kopi jawa berhasil menembus pasar dunia dan menahbiskan minuman gelap tersebut sebagai java’. (M-4)

BERITA TERKAIT