15 May 2020, 15:21 WIB

Dengan Gerakan Tanam Serentak, Sumbawa Barat Siap Jaga Pangan


mediaindonesia.com | Ekonomi

SAAT menghadiri video conference 'Tanam dan Panen Padi-Jagung (Live from Farm)' dengan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, Selasa (12/5), Bupati Sumbawa Barat, Musyafirin, dengan tegas menyampaikan komitmennya bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) siap menjaga pangan Indonesia.

Pasalnya, secara nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mermprediksi akan terjadi kekeringan yang sangat besar di Indonesia setelah Juni 2020. Tak hanya itu, berdasarkan informasi Food and Agriculture Organization (FAO), pasca-pandemi Covid-19 diperkirakan akan terjadi krisis pangan dunia.

“Pemerintah KSB bersama petani, TNI dan Polri siap menjaga pangan Indonesia. Saya bersama regu tanam dari ASN(aparatur sipil negara), TNI dan Polri membantu para petani melakukan penanaman, dan Alhamdulillah hingga saat ini telah berhasil menyelesaikan sekitar kurang lebih 11 hektar sawah,” demikian dikatakan Musyafirin di kantornya, Jumat (15/5).

Sebelumnya, pada video conference "Tanam dan Panen Padi-Jagung", Musyafirin menyampaikan kepada Mentan Syahrul bahwa daerahnya mengalami kesulitan di musim tanam kedua. Hal ini disebabkan karena berkurangnya buruh tanam padi sebagai dampak adanya pembatasan pergerakan masyarakat akibat pandemi Covid-19. 

“Untuk menanggulangi kelangkaan tenaga kerja tersebut, Pemerintah Daerah Sumbawa Barat menyiagakan regu tanam ASN bersama TNI dan Polri,” cetus Musyafirin.

Musyafirin pun menyebutkan sebagian besar lahan pertanian di wilayahnya kekurangan air akibat curah hujan yang cukup rendah. Akibatnya musim tanam kali ini kemungkinan besar lahan pertanian hanya dapat ditanam sekitar 60% untuk padi dan sisanya 40 % untuk penanaman jagung.

“Dalam menghadapi permasalahan kekurangan air, perlu adanya bantuan mesin pompa air ukuran sedang-besar, sekitar 8,5 PK dan 15,5 PK yang akan digunakan untuk blok-blok tertentu yang tidak bisa dijangkau oleh pengairan teknis,” tuturnya.

“Selain itu kami juga masih memerlukan bantuan dari APBN untuk perlu melakukan perbaikan jaringan irigasi tersier untuk menjamin kelancaran dan mengurangi tingkat kehilangan air yang masuk ke petak persawahan.  Kemudian, untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk agar kuota-kuota yang sudah berjalan tidak dipangkas,” pinta Musyafirin.

Sementara itu, Mentan Syahrul menegaskan dalam menghadapi pandemi Covid 19, pemerintah dan semua pihak terkait harus tetap menjaga ketersediaan pangan.

Menurut Mentan, ada beberapa cara yang dilakukan dalam menghadapi hal tersebut, yakni dengan melakukan percepatan penanaman secara maksimal, mempersiapkan lahan-lahan pertanian yang ada sehingga yang sudah panen disiapkan untuk tanam kembali. 

“Daerah harus mempercepat persiapan segala sarana dan prasarana yang mendukung seperti bibit, pupuk, obat-obatan, dan lain sebagainya,” kata Syahrul kepada dua gubernur dan 22 bupati/wali Kota  yang mengikuti video conference.

Oleh karena itu, Syahrul meminta semua pihak dapat bergotong royong dan bekerja sama agar ketersediaan makanan masyarakat lebih baik lagi walaupun dikondisi saat ini. “Saya berharap kepada seluruh kepala daerah bahu-membahu agar semua aspek pertanian bisa berjalan dengan baik,” tandasnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi, menjelaskan gerakan percepatan tanam ini sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam menghadapi ancaman krisis panjang akibat musim kemarau yang diprediksi akan terjadi pada puncak Agustus 2020.

Oleh karena itu, menurut Suwandi, Kementan menargetkan luas tambah tanam padi periode April - September 2020 seluas 5,62 juta hektare yang dapat menghasilkan beras sebanyak 15,05 juta ton.

"Untuk itu, pertanaman padi bulan Mei 2020 sampai dengan September 2020 harus dioptimalkan agar target luas tambah tanam itu tercapai. Gerakan tanam serentak ini pasti bisa mewujudkan hal tersebut. Jika skema ini berjalan dengan baik, stok beras kita pastikan aman hingga akhir tahun 2020," tegas Suwandi. (OL-09)

BERITA TERKAIT