15 May 2020, 13:42 WIB

Akibat Pandemi Covid-19, Makanan Kedaluwarsa di Distributor Naik


Atalya Puspa | Humaniora

BERDASARKAN intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadan dan jelang Idulfitri yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan, terdapat sebanyak 290.681 pieces (pcs) produk pangan yang tidak memenuhi ketentuan (TMK) dari 1.197 sarana distribusi. Angka tersebut meningkat dibanding 2019 yang berjumlah 72.994 pcs.

"TMK ini didominasi oleh makanan kedaluwarsa. Berdasarkan analisis kami, peningkatan ini disebabkan oleh menumpuknya barang di distributor karena tidak terserap pasar, dan melemahnya demand. Banyak retail tutup akibat adanya kebijakan PSBB," kata Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Badan POM Reri Indriani, Jumat (15/5).

Adapun, secara rinci, produk TMK yang ditemukan di sarana distribusi meliputi pangan kedaluwarsa sebanyak 246.498 pcs, tidak memiliki izin edar (TIE) 29.748 pcs, dan rusak 14.435 pcs.

"Total nilai ekonomi produk TMK pada 2020 berjumlah Rp654,3 juta. Ini memang lebih rendah dibanding 2019 yang mencapai Rp1,2 miliar. Ini semakin menguatkan analisis kami bahwa distributor lebih mengeluarkan bahan pokok. Karena masyarakat lebih memilih kebituhan pokok saat ini," bebernya.

Berdasarkan lokasi temuan, jenis pangan TIE banyak ditemukan di Surakarta, Banyumas, Banggai, Manokwari, dan Sorong, dengan jenis pangan berupa Bahan Tambahan Pangan (BTP), teh, roti, makanan ringan, dan sirup.

Temuan pangan kadaluwarsa banyak ditemukan di Manokwari, Sorong, Mimika, Morotai, dan Aceh Tengah dengan jenis pangan minuman serbuk, minuman berkarbonasi, mentega, wafer, dan makanan ringan.

Temuan pangan rusak dengan jenis pangan minuman berperisa, susu, krimer, biskuit, dan makanan ringan banyak ditemukan di Manokwari, Gorontalo, Aceh Tengah, Sorong, dan Surakarta.

Baca juga: Kokola Group Donasikan Ribuan Biskuit untuk Warga dan Petugas

Selain mengawasi bahan olahan, Badan POM juga melakukan pengawasan pangan jajanan berbuka puasa (takjil). Hasil menunjukan bahwa dari 6.677 sampel yang diperiksa, sebanyak 73 sampel (1,09%) TMS karena mengandung bahan yang disalahgunakan dalam pangan (formalin, boraks, rhodamin B, methanyl yellow).

Temuan bahan berbahaya yang paling banyak disalahgunakan adalah formalin (45%), diikuti rhodamin B (37%), boraks (17%), dan methanyl yellow (1%).

Jenis pangan yang banyak ditemui mengandung bahan berbahaya tersebut adalah kudapan, minuman berwarna, makanan ringan, mie, lauk pauk, bubur dan es.

"Dibandingkan dengan tahun 2019, terjadi penurunan persentase TMS terhadap jumlah sampel sebesar 1,96%, yaitu dari 3,05% pada tahun 2019 menjadi 1,09% pada tahun 2020," bebernya.

Adapun, tindak lanjut terhadap pangan olahan kemasan yang rusak, kedaluwarsa, dan TIE adalah diturunkan dari display, direkomendasikan untuk diretur ke supplier ataupun dimusnahkan, serta dilakukan pembinaan ke penjual/manajemen ritel agar tidak menerima produk yang TMK.

Sementara itu tindak lanjut terhadap temuan pangan jajanan buka puasa (takjil) yang mengandung bahan yang disalahgunakan dalam pangan adalah berupa pembinaan dan penelusuran lebih lanjut asal produk dan bahan baku produk tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan POM Penny Lukito menuturkan, pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan pengawasan agar masyarakat dapat mengkonsumsi makanan yang aman dan sehat.

Bersamaan dengan pemeriksaan produk pangan di pasaran, Badan POM juga melakukan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) keamanan pangan melalui penyebaran media informasi seperti stiker, poster, bannner baik di pasar tradisional maupun ritel modern. Penyebaran informasi ini dilakukan kepada pembeli maupun penjual.

“Rangkaian kegiatan intensifikasi pengawasan pangan ini dilakukan di 33 balai besar dan 40 kantor BPOM yang tersebar di seluruh Indonesia, dan masih akan terus dilakukan sampai Ramadan berakhir," tandas Penny. (A-2)

BERITA TERKAIT