15 May 2020, 13:00 WIB

​​​​​​​Pakistan Serukan Implementasi Kesepakatan AS-Taliban


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PAKISTAN, Kamis (14/5), menekankan pentingnya penegakan implementasi perjanjian antara Amerika Serikat dan Taliban untuk perdamaian Afghanistan, di tengah lonjakan kekerasan di negera itu.

"Pakistan percaya Perjanjian Perdamaian AS-Taliban telah memberikan jendela peluang bagi rakyat Afghanistan dalam bekerja sama mewujudkan tujuan akhir perdamaian dan rekonsiliasi di Afghanistan. Kami berharap Perjanjian Perdamaian diimplementasikan secara keseluruhan sehingga mengarah ke tahap selanjutnya dari negosiasi Intra-Afghanistan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Aisha Farooqui pada briefing mingguannya.

Farooqui ditanya tentang penolakan Taliban atas seruan gencatan senjata kemanusiaan dan perintah Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani kepada pasukan keamanan untuk menyudahi posisi pertahanan aktif dan melanjutkan serangan terhadap kelompok-kelompok militan termasuk Taliban.

Baca juga: Pasien Covid-19 di Pakistan Sembuh dengan Terapi Plasma

Dia mengatakan belum ada proposal yang dipertimbangkan oleh Pakistan untuk menjadi tuan rumah perundingan intra-Afghanistan di Islamabad.

Namun ia mengatakan upaya sedang dilakukan untuk membantu memulai perundingan intra-Afghanistan, yang merupakan langkah logis berikutnya setelah penandatanganan perjanjian perdamaian AS-Taliban.

"Kami berharap upaya ini berhasil di tahap paling awal," kata Farooqui, seraya menambahkan Pakistan dan Afghanistan berbagi tujuan akhir yaitu Afghanistan yang damai dan stabil.

"Pakistan selalu mendukung Afghanistan yang damai, demokratis, bersatu, stabil, dan makmur yang terhubung dengan kawasan ini. Kedua negara mempertahankan kontak rutin pada masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama. Pakistan berharap perdamaian abadi akan dibangun di Afghanistan," kata juru bicara.

Taliban dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian di Qatar pada akhir Februari, yang membuka jalan bagi penarikan semua pasukan asing.

Perjanjian tersebut menghadapi tantangan karena dialog intra-Afghanistan yang dijadwalkan dimulai pada 10 Maret tidak dapat dimulai karena terjadi silang pendapat mengenai pembebasan 5.000 tahanan Taliban. (Xinhua/A-2)

BERITA TERKAIT