15 May 2020, 11:42 WIB

​​​​​​​Neraca Dagang Alami Defisit Tipis pada April 2020


Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi defisit US$0,35 miliar pada neraca dagang Indonesia di April 2020. Defisit itu terjadi lantaran nilai ekspor tercatat US$12,19 miliar sedangkan nilai impor sebesar US$12,54 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto saat menyampaikan rilis secara virtual, Jumat (15/5), menyampaikan, pertumbuhan ekspor yang nilainya mencapai US$12,19 miliar mengalami kontraksi baik secara bulanan (mtm) yang tumbuh -13,33% maupun secara tahunan (yoy) yang tumbuh -7,02%.

"Selama bulan Maret dan April ini terjadi penurunan harga komoditas yang cukup signifikan. Misalnya harga minyak mentah Indonesia (ICP) turun tajam menjadi US$20,66 per barel atau turun 39,6%," ujarnya.

Bahkan, hampir semua komoditas mengalami penurunan yang tajam selama April 2020. Misal, harga minyak sawit secara mtm mengalami penurunan 4,1%, batu bara turun 12,14%.

Baca juga: BI: Utang Luar Negeri Triwulan I 2020 Melambat

Pun demikian dengan nilai impor yang mencapai US$12,54 miliar terjadi kontraksi baik mtm yang tumbuh -6,10% maupun yoy yang tumbuh -18,58%.

"Penurunan curam terjadi pada impor migas 46,83% sementara impor non migas 0,53% secara mtm. Sedangkan secara yoy impor migas turun tajam 61,78% dan impor non migas turun 11,24%," terang Suhariyanto.

Meski begitu, Suhariyanto menuturkan, posisi defisit pada April 2020 masih lebih baik ketimbang April 2019.

"Kalau kita lihat posisi ini lebih baik dibandingkan posisi April 2019. Karena pada April 2019 defisit nearaca dagang kita US$2,3 miliar," terangnya.

Suhariyanto menambahkan selama Januari hingga April 2020 neraca dagang Indonesia masih mengalami surplus US$2,25 miliar. Hal itu terjadi karena pada rentang Januari hingga April 2020 nilai total ekspor mencapai US$53,95 miliar.

Sementara nilai impor total selama Januari hingga April 2020 hanya mencapai US$51,71 miliar. 

"Jadi kalau kita lihat di tengah covid-19 ini kita masih surplus dalam rentang Januari hingga April 2020 US$2,25 miliar," pungkasnya. (A-2)

 

 

BERITA TERKAIT