15 May 2020, 11:29 WIB

Ekspor Manggis Indonesia ke Tiongkok Naik Dua Kali Lipat Lebih


mediaindonesia.com | Ekonomi

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) mencatat adanya peningkatan permohonan fasilitasi ekspor buah manggis ke Tiongkok sebanyak 111% pada periode kuartal pertama tahun 2020 jika dibanding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Tercatat ekspor buah tropis eksotik atau manggis ke Tiongkok sebanyak 34,71 ribu ton dengan total pengiriman 2.980 kali, sementara pada periode sama tahun 2019 hanya berhasil membukukan 16,43 ribu ton dengan total pengiriman 1.829 kali.

“Kenaikan yang cukup signifikan tentunya menjadi kabar menggembirakan, terlebih disituasi yang serba melamban akibat pandemi Covid-19 ini. Patut kita syukuri dan selamat bagi para petani manggis yang telah berhasil menghasilkan produk berkualitas ekspor, “ kata Kepala Barantan, Ali Jamil, melalui keterangan tertulisnya, Kamis (14/5).

Menurut Jamil, berdasarkan data sertifikasi ekspor yang tercatat pada sistem automasi perkarantinaan, IQFAST, tren ekspor manggis menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. 

Hal ini  berkat upaya dan kerja keras petani, kelompok tani dan pemilik rumah kemas sehingga protokol ekspor dapat dipenuhi dan pelayanan pemeriksaan karantina semakin efektif.

Disamping itu, manfaat buah dengan julukan ‘Queen of Fruit’ yang diakui tidak hanya oleh Tiongkok namun juga oleh banyak negara lainnya. Daging buahnya segar dan dipercaya dapat meningkatkan imunitas tubuh, juga ekstraksi kulit manggis banyak menjadi bahan baku industri farmasi dan kosmetik di negara tujuan ekspor, jelasnya.

Secara total  keseluruhan fasilitasi ekspor manggis Indonesia pada Januari hingga April 2020 sebanyak 45,33 ribu ton dengan pengiriman 4,427 kali atau secara keseluruhan juga naik dua kali lipat jika dibanding dengan periode sama tahun lalu yang hanya 21,05 ribu ton.

Sedangkan negara tujuan ekspor saat ini didominasi Tiongkok yakni sebanyak 77%, selebihnya negara Australia, Malaysia, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Prancis, dan Belanda.

Penguatan sistem perkarantinaan

Kepala Bidang Karantina Non Benih, Kementan, Turhadi, yang turut memberikan keterangan. Turhadi menjelaskan bahwa keberhasilan komoditas asal sub sektor hortikultra ini dalam menembus pasar global merupakan pencapaian penting. Hal tersebut disebabkan karena setiap negara mitra dagang memiliki persyaratan teknis yang ketat khususnya Tiongkok.

Standar baku mutu ini tertuang pada protokol impor manggis yang telah disepakati antara Indonesia dan negara mitra. Hal tersebut harus dipenuhi agar produk yang diekspor dapat diterima.

"Inilah peran yang diemban Barantan selaku otoritas karantina untuk melakukan sinkronisasi persyaratan ekspor pada tiap produk pertanian, termasuk manggis," jelas Turhadi.

Untuk itu, menurut Nurhadi, diperlukan upaya terus menerus untuk penguatan kesisteman perkarantinaan, seperti fasilitas pemeriksaan baik sarana dan prasarana laboratorium serta kemampuan petugasnya guna memastikan kesehatan dan keamanan produk sesuai protokol ekspor negara mitra dagang.

“Inilah adalah tugas kami untuk mengawal juga memastikan seluruh persyaratan teknis sanitari dan fitosanitarinya terpenuhi,” ujar Turhadi.

Dorong hilirisasi

Di sisi lain, Jamil menambahkan sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa saat ini Kementan juga terus memperbaiki iklim investasi pertanian dengan melakukan deregulasi serta penyediaan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hal ini ditujukan untuk mendorong tumbuhnya hilirisasi industri produk pertanian. 

“Diharapkan segera dimanfaatkan oleh dunia usaha, supaya komoditas pertanian mendapat nilai tambah. Jangan lagi ekspor buah segar atau bahan mentah, minimal berupa setengah jadi atau bahan jadi seperti ekstrak manggis,” ujar Jamil.

Seluruh direktorat teknis dilingkup Kementan fokus pada program peningkatan produksi dan nilai tambah, khususnya bagi komoditas strategis dan juga komoditas yang memiliki potensi dan peluang ekspor.

Bekerja sama dengan jajaran pertanian diseluruh Indonesia pembangunan pertanian berbasis kawasan berioentasi ekspor juga digalakkan. Barantan yang ditunjuk untuk menggawangi pencapaian target ekspor, telah menyiapkan aplikasi peta potensi komoditas ekspor, (iMACE) sebagai alat bantu dalam pengambilan kebijakan.

“Ekspor produk dalam bentuk olahan menjadi pilihan terbaik saat ini. Selain  bernilai tambah, tahan lama dan mudah mengemasnya juga menambah devisa negara, tentunya berdampak bagi kesejahteraan petani manggis," tutup Jamil. (OL-09)

BERITA TERKAIT