15 May 2020, 10:47 WIB

Data Penerima Bansos Dipajang di Tempat Ibadah


Usman Afandi | Nusantara


PEMERINTAH Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur terus memperluas akses publikasi data para penerima bantuan sosial bagi warga yang terdampak korona. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan pemasangan itu tidak hanya dipampang di kantor kecamatan atau kantor desa. Namun juga dipampang di sejumlah tempat ibadah.

"Kami terus memperluas tempat-tempat yang memampang data penerima bansos. Selain di kantor kecamatan dan desa, kita juga pasang di sejumlah tempat ibadah," ungkap Anas, Kamis (14/5).

Pihaknya menambahkan tempat ibadah sengaja dipilih untuk memperluas akses masyarakat karena masih banyak warga di Banyuwangi yang tidak tahu ada bantuan sosial.

"Karena tidak semua orang bisa mengakses secara online, maka kita juga memaksimalkan dengan cara-cara manual seperti ini," tambahnya.

Pengumuman nama penerima bansos dipasang di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Masjid Besar Baiturrahman Genteng, Masjid KH. Ahmad Dahlan, Klenteng Hoo Tong Bio, Gereja Kristen Jawi Wetan dan sejumlah tempat ibadah lainnya di Banyuwangi.

Sementara itu Camat Banyuwangi, M. Lutfi menyebut pengumuman para penerima bansos ini untuk akses transparasi data. 

"Dengan pemampangan data ini, agar masyarakat tahu siapa yang dapat atau belum. Jika ada yang tahu ada tetangga atau saudaranya yang seharusnya dapat tapi belum mendapat, bisa langsung melaporkan," ujar Lutfi.

Data yang dipampang tersebut  meliputi para penerima bantuan dari Pemerintah Pusat, Provinsi hingga Kabupaten. Semuanya berbasis nama, alamat, sehingga bisa langsung diverifikasi secara langsung.

"Di masing-masing tempat pengumuman juga dilengkapi dengan contact person untuk pelaporan. Masyarakat bisa menelpon secara langsung ataupun datang ke kantor lurah atau kecamatan," papar Lutfi.

baca juga: 150 Ribu Keluarga di Blora Diguyur Bantuan Sosial Covid-19

Bupati Anas menambahkan transparansi tersebut, juga berguna untuk meredam keresahan masyarakat. Berbagai bantuan yang ada, penyalurannya tidak serentak. Sehingga terkadang menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian masyarakat yang merasa tidak mendapat bantuan. Padahal, belum gilirannya untuk menerima.

"Masyarakat bisa tahu pula, ia dapat bantuan atau tidak. Bantuan apa yang bisa didapatkannya, kapan jadwalnya dan seterusnya. Sehingga tidak timbul keresahan yang sampai diumbar ke media sosial," pungkas Anas. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT