15 May 2020, 06:25 WIB

Produksi Pangan Indonesia Cukup Kuat dan Terkendali


S1-25 | Politik dan Hukum

MENTERI Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan produksi pangan Indonesia cukup kuat dan terkendali. Tahun ini, sebagian besar provinsi mengalami surplus produksi.

Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan strategi sistem logistik nasional dalam menyederhanakan rantai pasok dan intervensi distribusi.

Salah satunya dengan mengalihkan komoditas dari daerah yang surplus ke daerah yang defisit. Untuk saat ini, setidaknya ada 28 propinsi dalam kondisi terkendali. “Tapi dua di antaranya, yaitu Kalimantan Utara dan Maluku perlu mendapat perhatian lebih,” ujar SYL, Senin (4/5).

Data stok dan perkiraan bahan pokok yang diterbitkan oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) menunjukkan bahwa beberapa bahan pokok pangan periode April sampai Juni 2020 masih cukup dan aman.

Untuk beras, neraca hingga Juni diperkirakan sebanyak 6,4 juta ton, jagung sebanyak 1,01 juta ton, gula pasir sebanyak 1,07 juta ton, dan minyak goreng sebanyak 5,7 juta ton.

“Yang terpenting adalah distribusi kita berjalan dengan lancar. Identifikasi wilayahnya, kita punya pemetaannya. Ini perintah Presiden supaya kita semua Kementerian bekerja sama menutup defisit. Artinya, tidak ada lockdown, tidak ada isolasi, tidak melakukan penguncian dan tidak membuat rintangan terhadap distribusi pangan,” kata SYL.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB, Muhammad Firdaus mengapresiasi upaya pemerintah dalam menata sistem distribusi pangan.

“Sistem distribusi pangan perlu ditata dengan baik untuk mengurangi disparitas harga antarwilayah,” ujar Firdaus.

Data stok terkini dan prediksi ketersediaan pangan menurut Muhammad Firdaus juga juga sudah dibuat sangat lengkap.

“Ini bagus dan perlu diketahui publik, supaya masyarakat lebih tenang,” pungkasnya.

Komitmen jaga pangan

Di sisi lain, Mentan menyampaikan terima kasih kepada para kepala daerah yang terjun langsung ke lapangan untuk menjamin ketersediaan pangan. Hal itu diungkapkan Mentan pada video conference Gerakan Percepatan Tanam Padi dan Jagung secara serentak di seluruh Indonesia, pada Selasa (12/5), di ruang rapat Agriculture War Room (AWR).

Pada kesempatan tersebut, Mentan menyapa seluruh petani di daerah. Mentan mengatakan pandemi covid-19 adalah tantangan yang nyata. “Yang harus kita waspadai adalah rekomendasi dari FAO yang menyatakan bahwa setelah covid-19 ini berlalu akan hadir krisis pangan dunia dan akan datangnya kemarau panjang sesuai dengan rekomendasi BMKG,” lanjut SYL.

Hal itu, jelasnya, tidak boleh terjadi di Indonesia. Karenanya, Mentan mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah, yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. Dan, ia berharap kerja sama yang lebih intens dari berbagai pihak agar semua dapat berjalan dengan baik. “Saya siap dihubungi kapan saja untuk hal hal yang urgent untuk selanjutnya saya akan berkoordinasi dengan para Dirjen,” tegas nya.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan Komitmen bersama ‘Kami siap menjaga pangan Indonesia’ yang digaungkan oleh seluruh peserta yang tersebar di 77 kabupaten dan 21 provinsi.

Dalam dialog dengan para kepala daerah, Mentan memberi arahan spesifik agar menyiapkan lumbung pangan di tingkat provinsi dan kabupaten. Bahkan, di harapkan para kepala desa dan lurah untuk membangun juga lumbung desa agar ketersedian pangan selalu tetap
ada. “Rakyat jangan buru-buru menjual padinya. Agar ada cadangan beras di tingkat rakyat selalu tersedia,” tandas nya.

SYL juga mengimbau untuk memperhatikan irigasi melalui program padat karya pengair an. “Kami akan bicara dengan Kementerian PUPR agar untuk bisa mendukung pertanian kami.”

Mentan SYL terus meyakinkan bahwa pasokan pangan aman dan meminta komitmen bersama dari seluruh daerah untuk tetap fokus pada upaya peningkatan produksi pangan.

Sebagai gambaran dijelaskan pula oleh Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi bahwa sasaran tanam padi dan jagung pada 2020 cukup tinggi dibanding realisasi tahun sebelumnya. “Untuk mencapai keberhasilan sasaran tersebut, pertanaman padi bulan Mei sampai dengan September 2020 harus dioptimalkan,“ jelasnya.

Pada 2020, secara nasional, pemerintah mentargetkan luas tanam padi 11,66 juta ha, berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Untuk jagung, ditargetkan seluas 4,49 juta ha, berpotensi menghasilkan 24,17 juta ton pipilan kering.

“Angka sasaran tersebut di atas diharapkan bisa disampaikan kepada masing-masing provinsi, kabupaten/kota untuk menjabarkan angka tersebut ke tingkat kecamatan dan sampai tingkat desa, dengan rincian per bulan. Rincian angka sasaran tersebut dapat dijadikan sebagai komitmen semua pihak yang terlibat di masing-masing tingkatan, dan sebagai acuan dalam mengukur keberhasilan pencapaian sasaran tanam padi,” ujar Suwandi. (c)

BERITA TERKAIT