15 May 2020, 06:20 WIB

Bulog Jaga Pasokan Kebutuhan Pokok


Muhammad Fauzi | Politik dan Hukum

BULOG siap menyalurkan gula putih kristal ke pasar pada akhir pekan ini. Tujuannya antara lain menjamin ketersediaan gula, terutama menjelang Lebaran sehingga harga kebutuhan pokok tersebut bisa tetap terjangkau oleh masyarakat.

“Kami akan menggelontorkan sedikitnya 22.000 ton gula yang baru saja didatangkan dari India. Jumlah itu baru sebagian dari total izin impor 50.000 ton,” ungkap Dirut Perum Bulog Budi Waseso seusai rapat pimpinan internal Bulog di Jakarta, kemarin.

Harga gula pasir di tingkat konsumen kini mencapai Rp19.000 per kilogram. Dengan stok yang dikuasai, Perum Bulog optimistis dapat menekan harga gula kembali ke harga eceran tertinggi Rp12.500 per kilogram.

Selain itu, keamanan jumlah stok beras yang tersebar di seluruh wilayah kerja Perum Bulog hingga saat ini mencapai 1,4 juta ton. Perum Bulog juga terus melakukan pengadaan dalam negeri berupa gabah dan beras dari petani yang saat ini sedang panen raya. Hingga pertengahan Mei ini, serapan Bulog sudah mencapai 290.000 ton.

Di sisi lain, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Ardiansyah Parman, mengkhawatirkan kebiasaan impor bahan pangan yang dilakukan oleh pemerintah. Padahal, sejumlah daerah masih mengalami surplus.

“Produk seperti gandum itu 11% impor. Ini menjadi perhatian kita ketika suplai dalam negeri semoga cukup aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Ardiansyah dalam seminar daring tentang ketahanan pangan selama dan pascacovid-19, kemarin.

Ancaman kekeringan

Indonesia diprediksi akan menghadapi kekeringan pada Juni-Agustus atau setelah terjadinya wabah virus korona. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriardi, menyebut kekeringan akan memengaruhi produksi, distribusi, serta harga pangan.

“Antisipasinya dengan menjamin ketersediaan pangan nasional. Ketersediaan kita memang cukup, tetapi untuk bawang putih, gula, dan daging kita impor,” ujarnya, kemarin.

Di sisi lain, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kemendag, Kasan Muhri, mengaku kaget menemukan bawang
merah masih diekspor. Padahal, komoditas itu mengalami penurunan hingga 30%. Ekspor buah-buahan juga masih terjadi di tengah situasi wabah dengan tujuan Korea Selatan dan Uni Emirat Arab. (Iam/Sru/Tri/X-11)

BERITA TERKAIT