15 May 2020, 06:05 WIB

Kiat Mencegah Stres


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

SAAT ini banyak warga yang stres karena ternyata virus korona bertahan hidup di tengah masyarakat. Kebijakan pemerintah pun tetap
berlanjut. Akibatnya warga masyarakat kita banyak yang kesulitan dalam mengatasi ekonomi rumah tangga.

Dalam keadaan seperti itu banyak hal yang bisa terjadi, termasuk di antaranya stres. Stres ialah suatu kondisi ketika seseorang berada di dalam ketegangan karena adanya ketidakjelasan antara harapan dan kenyataan.

Stres bisa tampak dalam berbagai fenomena, baik fenomena fi sik maupun psikis. Fenomena fisik bisa dalam bentuk gangguan fisik, seperti gatal-gatal, pusing, mual, dan sakit perut. Fenomena psikis bisa dalam bentuk uring-uringan, marahmarah, atau diam seribu bahasa.

Sebenarnya stres tidak selamanya negatif. Tantangan beban kerja bagi para eksekutif dapat melahirkan kreasi-kreasi baru dalam menyelesaikan suatu persoalan.

Selalu ada saja ide spontanitas jika seseorang terdesak waktu. Bahkan ada yang mengatakan, hidup yang sama sekali bebas dari stres sama bahayanya dengan stres, malahan bisa lebih buruk lagi. Hidup tanpa stres tidak memberi peluang untuk berkembang. Malah yang terjadi ialah suasana monoton, membosankan, dan stagnan.

Banyak sekali faktor yang dapat memicu stres (stressor). Ada faktor dari luar diri seseorang dan ada faktor dari dalam. Pemicu stres dari luar,
antara lain, dikejar-kejar deadline dalam suatu urusan, berkonflik dengan seseorang, termasuk konflik rumah tangga, baru saja terkena PHK, tuntutan ekonomi mendesak, dan janji mendesak untuk ditunaikan.

Faktor dari dalam ialah kekecewaan berat yang melanda dirinya karena kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dan keputusan. Bisa juga lantaran penyakitnya tak kunjung sembuh dan negative thinking pada diri sendiri semakin berat dengan hadirnya masalah yang bertubi-tubi.

Tanda-tanda stres itu sudah diidentifikasi dengan lebih konkret oleh para ahli. Seperti dikemukakan Sean Covey, tanda-tanda stres antara
lain keletihan yang tanpa diketahui sebab-musababnya; gangguan makan, misalnya kehilangan nafsu makan; dan gangguan tidur, misalnya tidak bisa tidur atau gampang terbangun.

Pertanda lainnya ialah keluarnya air mata tanpa terken dalikan, terlintas pikiran untuk bunuh diri atau berdoa agar Tuhan mengambil nyawanya, hilangnya keterkaitan pada hal-hal khusus pada dirinya seperti berpakaian necis, tidak bisa fokus dan berkonsentrasi dalam pekerjaan, serta sering merasa mengerut ketika sedang sakit ringan. Begitu pula tegang atau pening tanpa diketahui penyebabnya, minum alkohol berlebihan, lekas marah, mudah tersinggung, dan sering muncul pemikiran radikal.

Bagaimanapun juga kita tidak bisa menghindari stres. Yang kita harus lakukan ialah bagaimana mengurangi stres itu sampai dalam batas yang wajar. Stres disebabkan banyaknya tuntutan yang harus diselesaikan dalam waktu relatif bersamaan. Karena itu, hanya orang yang mampu mengatasi stres yang dapat bertahan hidup secara wajar.

Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian kita ialah jangan sampai kita menanam bibit-bibit stres, yaitu menginvestasikan perasaan kita kepada orang lain atau suatu objek tertentu yang pada gilirannya akan menuai stres.

Di antara bibit-bibit stres itu ialah menjadi penggemar fanatik seorang figur atau sebuah tim. Begitu figur favoritnya kalah atau terpeleset, dirinya pun ikut serta di dalamnya. Terlalu berharap banyak kepada seseorang, tetapi begitu orang itu berbalik, stres melanda dirinya.

Menaruh harapan pada halhal bersifat spekulatif, seperti berjudi dan bermain di pasar saham atau pialang; begitu kalah, beban berat terpikul di pundaknya. Terlalu banyak menceritakan rahasia pribadi kepada orang lain; begitu berpisah, stres terjadi karena khawatir rahasianya terbongkar.

Juga, terlalu banyak berpindah tempat kerja atau tempat tinggal sehingga seperti tidak punya pegangan dalam hidup. Dengan mengenal benih-benih stres itu, kita bisa menghindarinya agar tidak terjerat stres.

BERITA TERKAIT