15 May 2020, 02:10 WIB

Perkuat Jaringan di Tengah Wabah Virus Korona


MI | Humaniora

KEPALA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, mengaku menemukan cara baru dalam menyampaikan program strategis mereka selama masa pandemi  coronavirus disease (covid-19).

Bahkan, jaringan bersama para kader dan penyuluh KB non-PNS pun makin erat. “Multilevel networking kami manfaatkan, penyuluh dan kader secara virtual memanfaatkan jaringan. Luar biasa ada hikmahnya,” ungkap Hasto kepada Media Indonesia, pekan lalu.

Ia mengatakan, saat ini pihaknya memiliki 1,2 juta kader dan 24 ribu orang penyuluh non-PNS. Selama pembatasan jarak sosial (socialdistancing), jasa merekalah yang membantu memberikan penyuluhan tentang covid-19.

Tidak hanya itu, pihaknya pun membantu memberikan bahan penyuluhan yang dilakukan dengan cara daring melalui vlog. Hal ini dilakukan dengan harapan agar penyuluhan bisa sampai ke  wilayah pelosok.

“Dari sini juga kami mengembangkan komunikasi berjenjang, jadi kenal satu sama lain, bahkan cara seperti ini dirasa lebih hemat anggaran karena tidak menyelenggarakan penyuluhan secara tatap muka,” jelas dia.

Selain itu, pihaknya pun mulai mengemas cara baru untuk meningkatkan jumlah pengikut (follower) media massa dalam menyampaikan pesan Program Bangga Kencana. Saat ini, proporsi jumlah penduduk pada kelompok umur muda dan produktif sangat besar menjadikan mereka sebagai sasaran utama program BKKBN.

“Mereka ini lah yang menjadi tumpuan pembangunan nasional baik sekarang maupun dimasa datang. Sehingga BKKBN merubah pendekatan program agar menjadi lebih relevan untuk generasi milenial dan z,” tambah dia.

Meski demikian, lanjut dia, cara sedemikian rupa tetap memiliki kelemahan. Sebab, jumlah kader dan penyuluh KB yang tersebar di Indonesia masih belum sebanding dengan jumlah desa yang ada. “Ini memang salah satu kendalanya, satu orang kader atau penyuluh masih harus meng-handle beberapa desa,” kata dia. 

Hasto mengatakan, masa pandemi covid-19 telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penggunaan alat kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS). Terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan karena tidak teraksesnya PUS terhadap pelayanan kontrasepsi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh BKKBN untuk meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat Indonesia, termasuk stakeholder dan mitra kerja melalui berbagai media. Bukan hanya risiko kesehatan namun juga risiko psikologis karena kekhawatiran.

“Oleh karena itu, kita harus menyosialisasikan penundaan kehamilan kepada masyarakat dan sosialisasi ini harus dikemas pula secara baik dan menarik sehingga terpahami isi pesannya,” ucapnya.

Berdasarkan data BKKBN, sebanyak 30% bayi berisiko tidak memenuhi standar kesehatan saat lahir. Apabila sejak awal bayi sudah tidak memenuhi standar kesehatan, akan sulit mengembangkan SDM ke depannya. Ketidaktahuan dan ketidaksiapan pasangan saat akan menikah menimbulkan banyak risiko kesehatan terhadap ibu dan bayi yang dilahirkan.

Ketidaktahuan itu juga menurunkan kemampuan pasangan muda untuk menghasilkan generasi baru yang unggul dan berkualitas. Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan generasi Indonesia yang unggul, BKKBN berupaya melakukan pendekatan kepada para calon ibu dengan memberikan edukasi dan kesadaran tentang pentingnya mempersiapkan 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga bayi yang mereka lahirkan menjadi generasi baru yang unggul dan berkualitas.

“Banyak program yang bagus di BKKBN, tetapi apakah generasi muda mengetahui itu? Hal ini yang harus menjadi perhatian kita. Sepertinya program Bangga Kencana harus kita tinjau ulang, kita kemas ulang sehingga bisa sampai dan dipahami para generasi muda kita,” ungkap Hasto.

Hasto berharap, selama masa pandemi covid-19 ini, BKKBN punya sistem yang mampu melayani masyarakat dengan efektif dan efisien. Jangan sampai adanya pandemi, banyak program yang gagal.

“Jangan sampai ini. Jangan saat pandemi, angka stunting jadi naik, angka kematian ibu dan anak naik. Kehamilan tidak dikehendaki naik. Aborsi ilegal naik. Kita jangan hanya memikirkan dampak jangka pendek. Jangka menengah dan jangka panjang juga harus ada yang memikirkan,” tandas dia. (Gan/S2-25)


 

BERITA TERKAIT