15 May 2020, 01:25 WIB

Tidak hanya Jadi Tempat Uji Klinis Vaksin


MI | Humaniora

MENTERI Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyatakan keinginannya agar Indonesia dapat memproduksi vaksin sendiri. 

Dalam hal ini, ia ingin Indonesia tak hanya jadi lokasi uji klinis bagi vaksin covid-19. “Sudah ada beberapa pihak yang ingin sama-sama mengembangkan vaksin, ada yang sudah menawarkan uji klinis. Namun, kami sebetulnya tidak ingin hanya menjadi lokasi uji klinis. Kami sedang bernegosiasi agar peneliti kita juga mempunyai kapasitas untuk bisa melahirkan prototipe dari vaksinnya terutama prototipe virus yang beredar di Indonesia,” tutur Bambang dalam video conference, Jumat (8/5).

Bambang menjelaskan saat ini proses pembuatan vaksin di Indonesia tengah dikembangkan, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ditunjuk sebagai koordinator. Saat ini pihak Eijkman telah memiliki dan mengirimkan tiga whole genom sequencing ke Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). Nantinya, data yang dikirimkan itu menjadi gambaran karakter covid-19 di Indonesia.

Sampel pengurutan genom ini diambil dari pasien covid-19 di Wilayah Jabodetabek. Untuk medeteksi strain virus yang ada di Indonesia, Bambang berharap akan lebih banyak lagi WGS yang di-submit ke GISAID. Dalam waktu dekat, UNAIR Surabaya juga akan menyusul mengirimkan 2 WGS.

Bambang menjelaskan strain covid-19 di Indonesia tidak termasuk kategori S, G, dan V yang sudah menjadi strain baku. Covid-19 di Indonesia masuk kategori strain O atau others (lain-lain). 

Berdasarkan analisis GISAID, dari tiga whole genom sequencing yang dikirim Eijkman, kemungkinan berkaitan dengan virus korona yang banyak beredar di Asia Selatan dan Asia Timur. Dalam arti, terdapat kesamaan antara virus di Indonesia dengan virus yang merebak di Asia Selatan dan Asia Timur.


Rute transmisi

Menurut Bambang, pengurutan genom lengkap tidak hanya berguna bagi riset dan pengembangan vaksin, tapi juga berguna untuk melacak rute transmisi virus di Indonesia. Ketepatan dalam mendeteksi tipe virus akan memberikan informasi terkait asal penularan virus dan seberapa cepat virus beradaptasi ketika menyebar di Indonesia.

Dengan semakin banyak urutan genom virus yang mampu diurutkan akan lebih akurat dalam menentukan karakteristik covid-19 di Indonesia. Namun, Bambang mengingatkan untuk mengurutkan genom ini bukanlah perkara yang mudah.

“Sebab untuk mendapatkan sequencing yang nanti cocok untuk di-submit itu memang tidak bisa semua virus yang positif dijadikan contoh. Jadi contohnya yang tiga pertama ini dikirim karena kebetulan virusnya tidak perlu dikultur,” tutur Bambang.

Kultur sel merupakan proses perpindahan sel ke dalam medium tertentu agar bisa berkembang dan diteliti. Tiga sampel pertama berhasil melewati tahap whole genome sequencing karena memiliki viral load yang cukup tinggi sehingga memuat karakter virus yang memadai tanpa perlu dikultur.

Dalam tahapan pembuatan vaksin memang dimulai dengan isolasi gen virus khas Indonesia, dan dilanjutkan dengan analisis gen, serta dikirim ke GISAID. Nantinya, diperoleh protein rekombinan yang berlanjut menjadi antigen sebagai kandidat vaksin. 

Kandidat vaksin ini akan diuji coba terhadap hewan terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan uji klinis pada manusia. Setelah sukses, barulah dibuat untuk skala produksi sebelum akhirnya didistribusikan. (Dro/S3-25)

BERITA TERKAIT