15 May 2020, 00:55 WIB

Adu Ide Kreatif Warnai Kontes Ideathon


MI | Humaniora

BERAGAM ide masyarakat untuk menangani covid-19 tersaji dalam kontes Ideathon yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dari total 4.397 ide masyarakat dan institusi, panitia seleksi mengumumkan 17 ide yang mendapat dukungan BRIN untuk diimplementasikan ke  lapangan. Menristek sekaligus Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menjelaskan meski telah membentuk konsorsium riset dan inovasi, pihaknya juga membuka peluang bagi ide-ide masyarakat dari berbagai bidang.

Bambang menegaskan ide-ide dari masyarakat ini bukan hanya berbicara soal penanganan kesehatan covid-19, melainkan juga mitigasi dampak dari covid-19 seperti ekonomi, sosial, psikologi, dan lainnya.

“Ideathon ini tujuannya semacam crowdsourcing, kami ingin mengumpulkan ide sebanyak mungkin dari berbagai bidang untuk memecahkan masalah baik yang sifatnya lokal, global, maupun bersifat kolektif,” terang Bambang, baru-baru ini.

Bambang pun berharap nantinya ide-ide para pemenang dapat mewujudkan apa yang digagas menjadi suatu hal konkret dan betul-betul dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar. Untuk itu, salah satu bentuk dukungan BRIN ialah dukungan pembiayaan terhadap ide-ide yang menang agar dapat direalisasikan dalam waktu tertentu.

Untuk implementasinya, pihaknya menargetkan setelah pengumuman hingga lima bulan ke depan ide-ide yang ada sudah dapat diaplikasikan di lapangan. Adapun dukungan pendanaan akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap ide.

“Setiap pemenang sudah mengajukan berapa dana yang dibutuhkan untuk bisa merealisasikan ide mereka. Kami sudah menyediakan anggaran maksimal hingga Rp2 miliar dan sepertinya lebih dari cukup jika dibandingkan dengan proposal yang diajukan masing masing pemenang,” tutur Bambang.


Pemulasaraan jenazah

Beragam ide menarik dipilih sebagai pemenang dalam kontes ini. Tengok saja, ide dari tim Institut Teknologi Telkom Surabaya yang diketuai Tri Arief Sardjono tentang Crane Pemulasaran Jenazah Covid-19.

Tri mengaku ide ini diawali dari pemulasaraan jenazah covid-19 yang tetap harus mengikuti protokol keamanan WHO dan Kemenkes dengan alat pelindung diri (APD) lengkap. Padahal, mereka harus membawa p eti jenazah yang cukup berat.

“Kami ingin membantu teman- teman petugas dengan membuat crane dan stretcher yang biasanya digunakan di ambulans, tetapi lebih besar dan lebih kuat karena membawa peti jenazah. Selain itu, tetap portable dan fleksible agar bisa masuk ke ambulans hingga liang lahat,” terang Tri.

Stretcher ini akan membawa masuk peti ke ambulans dan dari ambulans ke liang lahat. Nantinya digunakan rail agar dapat masuk. Adapun crane digunakan untuk menurunkan peti jenazah ke liang lahat. 

“Semua alat ini menggunakan motor elektrik sehingga petugas tidak terlalu berat membawa petinya,” ujar Tri.

Ide menarik lainnya disampaikan oleh tim Institut Teknologi dan Kesehatan Jakarta yang diketuai Ade Sunardi dengan ide Kios Cukur Rambut Portable. Ia melihat selama covid-19 ini banyak masyarakat enggan ke tukang cukur karena khawatir penularan covid-19.

Oleh sebab itu, pihaknya membuat ide tentang pemisah antara tukang cukur dengan pelanggannya dengan kaca mika. Untuk menyiasati kondisi yang harus tetap di rumah, pihaknya membuat kios bersifat portable.

Kios portable tersebut dapat dibawa kemana saja dengan cara didorong secara manual atau dengan ditarik dengan kendaraan bermotor. “Dalam rancangan ini, tukang cukur dan konsumen berada pada dua ruang yang dibatasi mika transparan. Tukang cukur dapat mencukur melalui lubang karet pada mika transparan. Nantinya, ada dua lubang dan lubang tersebut akan digunakan untuk mencukur konsumen,” terang Ade.

Dengan begitu, kegiatan cukur tetap mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah. Misalnya, tangan pencukur menggunakan sarung tangan karet pembatas serta harus memakai masker dan disinfektan sebelum mencukur.

Ada juga ide dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang diketuai Shera Mayangsari Suwito, yakni membuat sistem penjualan online bagi pedagang kaki lima (PKL). Sebagai awalnya, ditargetkan sebanyak 50 PKL terdampak covid-19 yang akan diberikan fasilitasi, edukasi, dan promosi untuk berjualan secara daring.

Shera menjelaskan aplikasi hilarion ini dihadirkan tidak hanya sebagai aplikasi jual beli untuk transaksi PKL, tetapi juga langsung terhubung sebagai integrator ke media sosial dan market place lainnya. (Dro/S3-25)

 

BERITA TERKAIT