14 May 2020, 21:40 WIB

Batik Blora Tetap Produktif di Tengah Badai Korona


Akhmad Safuan | Nusantara

Di tengah badai korona yang sedang melanda dan saat semua orang harus menahan diri untuk tidak keluar rumah, bukan berarti kegiatan usaha harus juga terhenti bahkan mati. Apalagi bila usaha itu bisa menghidupi cukup banyak tenaga kerja.

Sektor Usaha Mikro Kecil Menangah (UMKM), yakni kerajinan batik tulis di Kelurahan Beran, Kabupaten Blora termasuk yang merasakan dampak pandemi korona. Toko batik sepi pengunjung dan pembeli. Ini menimbulkan kekhawatiran terkait nasib dan kelangsungan hidup puluhan pekerja.

Ketika di beberapa daerah terjadi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membatasi ruang gerak usaha, ada seorang perajin batik di Desa Beran, Blora bernama Yanik Mariana yang mencoba bertahan.

Dia harus mencari cara untuk tetap dapat mempertahankan usaha batiknya yang mempekerjakan puluhan orang.

Satu pekan sejak korona datang, menurut Yanik, tidak ada satu pun konsumen dan pelanggan datang. "Mungkin mereka takut dengan wabah virus korona," kata Yanik di tempat usahanya, Kamis (14/5).

Namun, imbuhnya, usaha kerajinan batik ini harus tetap bertahan. Oleh karena itu, harus dicarikan terobosan yang tepat.

"Dengan memanfaatkan teknologi informatika sebagai sistem penjualan batik. Jadi, penjualan dilakukan secara daring di berbagai media sosial (medsos)," jelasnya.

Setelah produksi dilakukan, lanjut Yanik, maka tim kreatif segera mengolah dengan membuat foto-foto menarik batik hasil karya puluhan perajin ini, baru kemudian dipajang dan ditawarkan melalui medsos.

Meskipun tidak sampai mengalami lonjakan penjualan, tapi menurut Yanik, usaha ini mampu bertahan. Terbukti para perajin masih tetap berkarya memproduksi batik dengan kreativitas tinggi.

"Pembeli atau pemesan tidak perlu datang, kami antar sampai ke rumah dan pembayaran bisa langsung," jelas Yanik.

Baca juga: Keluar Rumah saat Jam Malam harus Ada Suket RT

Menurutnya, semua berjalan sesuai harapan. "Tidak ada satu karyawan yang berhenti. Sampai sekarang karyawan tetap bekerja meski harus sesuai protokol kesehatan. Mereka menggunakan masker, sering mencuci tangan, dan menjaga jarak satu dengan lainnya.

Namun, lanjutnya, pada bulan Ramadan ini ada pengurangan jam kerja. "Namun, rata-rata masih memproduksi 3-5 lembar per hari. Menurun dari sebelumnya 7-8 lembar per hari," ungkap Yanik.

Selain melakukan pemasaran daring, Yanik memiliki kiat dalam menjaga produktivitas, yakni para perajin didorong mengerjakan beberapa batik pesanan seragam kantor/sekolah terlebih dahulu. "Karena sudah jelas pembelinya. Baru kemudian sisa waktu digunakan membuat kain batik untuk stok," jelas Yanik.

Terkait kendala, pemilik Batik Nimas Barokah ini menyebut masalahnya adalah  pengiriman pasokan bahan baku pembuatan batik, seperti kain, malam dan pewarna yang kebanyakan dari Solo dan Pekalongan.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Blora Sarmidi mengapresiasi dan memberikan dukungan kepada para perajin batik yang tetap berusaha bertahan.

"Salah satu upaya dari kami adalah memberikan dukungan terhadap usaha kerajinan batik adalah meminta agar perkantoran, dinas, instansi tetap bisa memberikan pesanan seragam kepada para perajin lokal Blora," kata Sarmidi. (OL-14)

BERITA TERKAIT