14 May 2020, 19:00 WIB

Jepang Cabut Status Keadaan Darurat di Sebagian Besar Wilayah


Nur Aivanni | Internasional

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, pada Kamis (14/5), mencabut status keadaan darurat yang diberlakukan karena virus korona untuk sebagian besar wilayah. Namun, status tersebut tetap berlaku untuk Tokyo dan Osaka.

Setelah khawatir virus itu bisa meledak di Jepang, ternyata kasus infeksi baru telah turun tajam. Itu memungkinkan pemerintah untuk mengakhiri tindakan tersebut di 39 dari 47 prefektur sebelum berakhir pada 31 Mei.

Namun, dengan kasus-kasus baruyang masih muncul setiap hari di Tokyo, Osaka dan utara Pulau Hokkaido, Abe mengatakan kepada wartawan dalam konferensi pers yang disiarkan televisi bahwa keadaan darurat akan tetap diberlakukan untuk daerah-daerah tersebut.

"Jika memungkinkan, sebelum 31 Mei, kami ingin mencabut keadaan darurat untuk daerah lain juga," katanya, seperti dikutip dari France24.

Baca juga: Thailand Laporkan Nol Kasus Baru Covid-19 Sejak 9 Maret

Menurut Abe, ini akan menjadi jalan panjang di depan. Oleh karena itu, Abe meminta warga untuk tidak pergi keluar dan mengunjungi daerah lain.

Selain itu, Abe juga meminta warga Jepang untuk tetap waspada guna mencegah kemungkinan wabah baru.

"Jika masing-masing dari kita gagal melakukan kewaspadaan penuh, dalam waktu dua minggu ke depan tidak bisa diprediksi. Pernyataan kedua mengenai keadaan darurat mungkin dilakukan," kata Abe memperingatkan.

Pemberlakuan keadaan darurat di Jepang berbeda jauh dengan apa yang diterapkan di beberapa bagian Eropa dan Amerika Serikat (AS). Meskipun gubernur setempat dimungkinkan untuk meminta warga tetap berada di rumah dan bisnis untuk ditutup, mereka tidak bisa memaksa warga untuk mematuhinya dan tidak ada hukuman bagi yang tidak melakukannya.

Jumlah kasus virus korona di Jepang tetap rendah jika dibandingkan dengan yang ada di beberapa bagian Eropa dan AS. Ada lebih dari 16.000 infeksi korona yang dikonfirmasi dan 687 kematian. (France24/OL-14)

BERITA TERKAIT