14 May 2020, 16:41 WIB

BKPM : Manufaktur, Hilirisasi, Alat Kesehatan Prioritas Investasi


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Ekonomi

SAAT ini sektor manufaktur, hilirisasi,dan alat kesehatan menjadi perioritas investasi di Tanah Air menyikapi menurunnya investasi triwulan II karena dampak pandemi covid-19.

“Kami belum bisa meramalkan, namun pasti akan turun. Sementara kita butuh banyak investasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan,” ungkap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam diskusi virtual kemarin malam.

Terkait dengan sektor alat kesehatan, BKPM telah mengadakan rapat dengan Gabungan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (GAKESLAB) serta Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI).

“Dalam 4-5 bulan ke depan, kita akan fokus untuk mendatangkan investasi khusus di bidang kesehatan. Calon investor sudah mulai ada,” lanjutnya.

Menghadapi kondisi pandemi covid-19 ini, BKPM memiliki strategi 3+1, yaitu mengoptimalkan realisasi investasi yang sudah ada, menyelesaikan investasi mangkrak, melakukan promosi investasi, dan membangun konsolidasi ke dalam untuk bersiap menghadapi kondisi pasca covid-19.

“Jangan hanya mengejar investasi dari luar saja, tapi melupakan yang sudah ada di dalam. Kita akan datangi, kemudian bicarakan dengan mereka terkait ekspansi perusahaan dan insentif apa yang dapat difasilitasi. Bangsa yang menang di tahun 2021 nanti yaitu yang dapat melakukan konsolidasi ke dalam, di mana konsolidasi ini melibatkan 3 pihak, masyarakat, pemerintah, dan pengusaha,” tambah Bahlil.

Baca juga :Tak Perlu Khawatir, Deflasi Bahan Pangan Untungkan Masyarakat

Sesuai data investasi triwulan I 2020 yang dirilis oleh BKPM bulan Maret 2020 lalu, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp210,7 triliun dari total target investasi Rp886,1 triliun, dengan nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp98 triliun (46,5%), dan investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp112,7 triliun (53,5%).

Pencapaian itu menjadi pertama kalinya dalam sejarah dimana investasi PMDN lebih besar dibandingkan PMA. "BKPM akan terus menggenjot PMDN untuk dimaksimalkan. Sedangkan untuk investasi PMA, tidak dapat dipungkiri terjadi reschedule untuk implementasi realisasi investasinya akibat wabah Covid-19 ini,” ungkap Bahlil.

Disisi lain Research Director INDEF (The Institute for Development of Economics and Finance) Berly Martawardaya memaparkan perlunya pemerintah mendorong sektor manufaktur saat ini. Karena jika investasi banyak masuk di sektor jasa, maka penciptaan tenaga kerja tidak terlalu tinggi. Selain itu BKPM perlu mengubah strategi dan target investasi di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini, dimana banyak perusahaan sudah keluar dari Tiongkok, yang merupakan potensi bagi Indonesia untuk menangkap peluang tersebut, bersaing dengan Malaysia dan Vietnam.

“Yang paling penting PR (Pekerjaan Rumah) bukan hanya di BKPM saja, tapi juga di daerah. Seperti pengurusan izin IMB, pembangungan infrastruktur, upgrading skill pekerja, kepastian hukum, dan penanganan korupsi. Kita harus bisa melewati masa sulit ini, sehingga nanti tahun 2021-2022 dapat jauh lebih baik. Ini kita jadikan sebagai kesempatan bagi indonesia,” jelas Berly. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT