14 May 2020, 14:55 WIB

Selama Lockdown, Limbah Makanan Meningkat


Fathurrozak | Weekend

KARANTINA mandiri yang sudah beberapa waktu dilakukan di Inggris berakibat pula pada meningkatnya limbah makanan. Survei menunjukkan, limbah makanan yang dihasilkan meningkat dari senilai £111 (Rp1.789.896) menjadi £148 (Rp2.386.475) per restoran per minggu.

Penelitian dilakukan Sustainable Restaurant Association (SRA) dan aplikasi Just Eat dalam dua gelombang. Pertama pada Desember 2019, lalu diikuti fase kedua pada bulan April ini untuk memahami bagaimana perubahan yang terjadi pada limbah makanan akibat pandemi. 

Penelitian itu menemukan bahwa limbah makanan yang dihasilkan restoran-restoran di Inggris mengalami peningkatan. Peningkatan limbah makanan itu diakibatkan ‘pola pemesanan yang tidak terduga.’ 

Fluktuasi permintaan yang tidak biasa menyebabkan peningkatan limbah makanan yang dihasilkan di gerai makanan pesan ambil (takeaway) naik. Dari rata-rata £111 (Rp1.789.896) per restoran per minggu pada waktu normal, menjadi £148 (Rp2.386.475). Setara dengan kenaikan £16,7 juta untuk sektor tersebut secara keseluruhan sejak lockdown.

Laporan tersebut menemukan hampir setengah dari restoran yang disurvei, yakni 45% mengatakan mereka membuang sebagian besar sisa makanan ke tempat sampah. Terlepas dari pola pemesanan yang tidak menentu, konsumen tampaknya menghabiskan lebih sedikit konsumsi dari biasanya di rumah mereka sendiri.

Dari data tahun 2019 menemukan bahwa total makanan siap saji senilai £1,8 miliar dibuang di Inggris. Dari jumlah itu, sisa makanan senilai £376 juta berasal dari dapur restoran takeaway. Sementara rumah tangga membuang setara £1,4 miliar makanan takeaway dalam setahun penuh.

Data 2019 mengungkapkan bahwa rata-rata rumah tangga membuang hampir sepersepuluh (9%) dari makanan takeaway yang mereka pesan. Satu dari empat konsumen (25%) mengatakan bahwa lebih dari separuh waktu ketika mereka memesan takeaway, mereka memiliki sisa makanan yang berakhir di tempat sampah. Penyebab paling umumnya, tidak sengaja memesan porsi yang lebih besar dari yang mereka butuhkan. Nasi dan keripik menjadi makanan yang paling terbuang.

Data tahun lalu juga mengungkapkan bahwa di restoran, sejauh ini alasan paling umum untuk membuang makanan ialah karena kelebihan produksi makanan (46%). Makanan yang dimasak menjadi jenis makanan yang paling banyak dibuang, disusul dengan bahan-bahan segar yang tidak digunakan. (M-1)

BERITA TERKAIT