13 May 2020, 22:33 WIB

Urgen, Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Medis


Syarief Oebaidillah | Politik dan Hukum

PERLINDUNGAN hukum bagi keselamatan kerja tenaga medis nyaris luput dari perhatian, padahal sebagai garda terdepan penanganan pandemi covid-19 memiliki resiko kriminal dan kematian.

Menurut Hakim Agung, Dr Surya Jaya, pengaturan perlindungan hukum bagi keselamatan kerja tenaga medis menjad penting dan urgensi.

“Urgensinya terkait resiko yang dihadapi tenaga medis, yaitu resiko kriminal ketika dia keliru dalam menjalankan profesinya dan resiko kematian saat bertugas masa pandemi covid-19 ,” tegas Surya Jaya dalam diskusi online digelar Program Doktor Hukum (PDH) Universitas Borobudur Jakarta bertajuk Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Medis dalam Masa Pandemi Covid-19 pada Rabu, (13/5).

Hemat dia peraturan yang ada saat ini belum melindungi keselamatan kerja tenaga medis di masa pandemi seperti yang termaktub dalam UU No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dan lain lain.

Dia mengingatkan posisi UU tersebut hanya memberikan perlindungan tenaga medis ketika pasien menjadi korban tetapi perlindungan dokter yang menjadi korban itu belum ada.

Mengutip pernyataan pakar hukum yang mengatakan diperlukan pemenuhan hak-hak tenaga medis agar dapat bekerja sesuai dengan standar profesi kedokteran yang dipenuhi oleh negara.

Yakni terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan negara mengenai perlindungan hukum bagi keselamatan kerja tenaga medis dalam hal memberikan layanan kesehatan menangani pandemi covid-19, yaitu:

Pertama, mengenai peralatan medis mengingat ketersediaan peralatan medis yang berkualitas akan melindungi tenaga medis yang sedang memberikan layanan kesehatan dalam hal penanganan virus ini, sebaliknya, ketika kualitas peralatan medis tidak berkualitas justru berpotensi besar memudahkan virus untuk tenaga medis terjangkit virus tersebut;

Kedua, memberikan layanan kesehatan prima yaitu dengan rutin memeriksa kesehatan dari tenaga medis itu sendiri agar tenaga medis yang kurang sehat atau sudah lanjut usia tidak perlu untuk terjun langsung ke lapangan untuk menangani virus karena rentan tertular;

Baca juga :Wakil Ketua MPR RI Minta Pemerintah Jamin Ketersediaan Obat

Ketiga, tentang beban waktu para tenaga medis;

Keempat, santunan bagi tenaga medis yang gugur dalam memberikan layanan kesehatan menangani pandemi covid-19. Mereka merupakan pahlawan garda terdepan melindungi menangani warga dari wabah covid-19

Kelima, kondisi ini dapat menjadi pertimbangan negara segera membentuk suatu aturan mengenai perlindungan hukum bagi keselamatan kerja tenaga medis dalam melawan covid-19.

“Negara harus hadir untuk memberikan perlindungan dengan bentuk keamanan yang terjun langsung ke lapangan dalam menangani virus..Tidak hanya virus covid juga virus lainnya yang akan terjadi di masa datang," tandas Surya.

Dalam kesempatan itu, Ketua PDH Universitas Borobudur Prof. Dr. Faisal Santiago mengapresiasi terselenggaranya diskusi yang diikuti 100 peserta.

Prof Faisal mengutarakan tujuan pemilihan tema diskusi kali ini terkait isu tenaga medis sebagai isu penting mengingat pada masa pandemi covid-19 ini banyak mahasiswa berprofesi sebagai dokter mengikuti program pendidikan doktor hukum Universitas Borobudur.

Faisal Santiago berharap mahasiswa sebagai insan intelektual dapat memperkaya ilmu dan berkontribusi bagi kemajuan pengetahuan di tanah air.

“Kami berharap para mahasiswa semakin bertambah ilmu pengetahuannya untuk perlindungan hukum bagi para tenaga medis kita, " pungkasnya.(RO/OL-2)

BERITA TERKAIT