13 May 2020, 22:21 WIB

Wakil Ketua MPR RI Minta Pemerintah Jamin Ketersediaan Obat


Retno Hemawati | Politik dan Hukum

WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat minta pemerintah menjamin ketersediaan dan stabilitas harga obat bagi penderita nonCovid-19. Saat ini penderita penyakit autoimun, kanker dan sejumlah penyakit nonCovid-19 lainnya terkendala dalam melakukan pengobatan.

"Ketersediaan dan akses untuk berobat bagi penderita penyakit autoimun dan kanker misalnya kerap kali terganggu saat ini," ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/5).

Di masa pandemi Covid-19 ini, menurut Rerie sapaan akrab Lestari, selain terbatasnya jumlah dokter spesialis onkologi untuk penderita kanker, jam praktik dokter spesialis lainnya juga dikurangi. Akibatnya, jelas Rerie, penderita penyakit nonCovid-19 lainnya juga terkendala untuk berobat.

Kendala lainnya, tambah Legislator Partai NasDem itu, ada sejumlah obat bagi penderita nonCovid-19 seperti chloroquin, hydroxychloroquin, vitamin D3, saat ini juga dipakai untuk pengobatan penderita Covid-19.

"Saya berharap sejumlah obat itu ketersediaannya cukup dan harganya tidak melambung tinggi, karena permintaannya meningkat setelah dipakai untuk pengobatan Covid-19,"' ujar Rerie.

Demikian juga untuk ketersediaan dokter spesialis di rumah sakit, Rerie berharap, ada pengalokasian sejumlah rumah sakit nonrujukan Covid-19 yang memberikan layanan dokter spesialis untuk melayani penderita nonCovid-19.

Wabah Covid-19 di tanah air, jelasnya, juga mengganggu jadwal pemberian vaksinasi pencegahan kanker serviks bagi pelajar di sejumlah kota. Sehingga, Rerie meminta, pemerintah segera melakukan evaluasi untuk menata kembali program vaksinasi HPV tersebut.

Meski pemerintah saat ini sedang fokus untuk mengatasi wabah Covid-19, Rerie berharap, pemerintah tetap memberi perhatian pada sejumlah pengobatan bagi penyakit nonCovid-19.

Sebelum Covid-19 mewabah di tanah air, menurut Rerie, sejumlah penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke dan kanker tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. "Bila proses pengobatan sejumlah penyakit itu  terganggu, saya khawatir malah menambah tingkat kematian di masa pandemi Covid-19," pungkasnya. (OL-12)

BERITA TERKAIT