13 May 2020, 19:47 WIB

Polisi Tangkap Warga Tanam Pohon Ganja di Kemang


Tri Subarkah | Megapolitan

POLRES Metro Jakarta Selatan menangkap seorang pria berinisial KW alias AM karena kedapatan menanam pohon ganja di dalam rumahnya.

"Yang bersangkutan menanam pohon ganja ada enam batang dan juga daun-daun kering narkotika jenis ganja sebanyak 79 gram," ungkap Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budi Sartono, Rabu (13/5).

Didampingi Kasat Reskrim Narkoba Kompol Vivick Tjangkung, Budi mengecek langsung pohon ganja yang ditanam tersangka di dalam rumanhya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Baca juga: Ditutup terkait Narkoba, Diskotek Golden Crown Gugat Pemprov DKI

Berdasarkan video yang dibagikan kepada wartawan, pohon-pohon ganja setinggi 80 sentimeter ditanam di sudut dalam kamar pelaku. Penanaman pohon tersebut dibantu dengan lampu LED ultraviolet.

Selain pohon dan daun ganja kering, pihak kepolisian juga menyita pupuk yang digunakan untuk menyuburkan tanaman ganja tersebut.

Baca juga: Dapat Izin Kemenperin, 287 Perusahaan Abaikan Protokol Covid-19

Budi menyebut bahwa pelaku menanam ganja dari bibit. Adapun bibit ganja tersebut diperoleh dari negara Belanda melalui pembelian daring.

"Modusnya memesan biji ganja dari Belanda dengan harga perbiji 6 gulden atau setara Rp60 ribu dengan cara online. Ini masih kita telusuri," ungkap Budi.

Polisi menangkap pelaku pada Selasa (12/5) sekitar pukul 16.00 WIB. Pengungkapan kasus tersebut, ujar Budi, merupakan tindak lanjut dari laporan warga sekitar yang mencurigai adanya penyalahgunaan narkotika di rumah pelaku.

Kepada polisi, pelaku mengaku bahwa ganja yang ditanamnya dikonsumsi secara pribadi. Namun Budi memastikan pihaknya akan melakukan pengembangan mengenai kemungkinan pelaku menjual barang haram tersebut ke tempat lain.

"Ditanam di rumah, diproduksi sendiri, dipakai sendiri. Yang bersangkutan tinggal dengan pembantunya," tandas Budi.

Atas perbuatannya, polisi menjerat pelaku dengan Pasal 114 Ayat ,1 subsider Pasal 111 Ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Adapun ancaman hukumannya adalah pidana seumur hidup atau paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun penjara. Serta pidana denda paling banyak Rp1 miliar. (X-15)

 

BERITA TERKAIT