13 May 2020, 10:13 WIB

Tak Punya Tempat Khusus, Remaja Main Skateboard di Jalan


Tosiani | Nusantara

TEPAT pukul 16.00 wib, Selasa (12/5), sekelompok remaja yang tergabung dalam Panili Street Crew (PSC) berkumpul di jalan kampung wilayah Jampiroso, Kecamatan/Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Mereka kompak mengenakan kaos warna hitam dan membawa papan seluncur.

Di jalanan yang telah ditutup sejak pandemik korona itu, mereka manfaatkan untuk bermain skateboard. Beberapa dari mereka meluncur di atas papan dengan tumpuan satu kaki sepanjang sekitar 200 meter. Lalu melewati batang besi berukuran tinggi sekitar 30 sentimeter dan panjang satu meter yang dipasang di tengah jalan.

Tiap kali ada dari mereka yang terjatuh dengan papan seluncurnya, mereka lantas tertawa bersama, sehingga suasana menjadi ceria. Mereka yang terjatuh kemudian bangkit lagi, mencoba meluncur dan melewati rintangan batang besi lagi. Terpelanting dan terjatuh, lalu bangkit lagi adalah pemandangan yang selalu terjadi di arena permainan skate board ini.

"Kami main skateboard di sini dari pukul 16.00 wib sampai menjelang buka puasa sekitar pukul 17.30 wib. Jadi ini sembari ngabuburit," tutur Reynard,17, salah seorang anggota PSC, Selasa (12/5) sore.

Dafa Alfarel,18, anggota lainnya, mengatakan, anggota PSC keseluruhan ada 20 an orang. Namun banyak dari mereka yang bersekolah dan bekerja di luar kota sehingga tidak bisa setiap hari ikut latihan. Hanya lima sampai 10 orang saja setiap harinya yang aktif bermain.

Fariz,16, anggota dari kelompok PSC menyampaikan, biasanya mereka bermain skate board di trotoar dekat Alun-Alun Kota. Kadang juga mereka berpindah area di sekitar GOR Bambu Runcing. Jika bermain di trotoar, diakuinya, mereka kerap ditegur bahkan kena semprot masyarakat pengguna jalan lain yang hendak lewat dan merasa terganggu.

"Jika dimarahi, kami bubar, tapi itu sudah biasa, besoknya sudah main di sana lagi. Ini karena jalanan ditutup terkait pandemik korona jadi bebas bermain, tidak ada yang menegur atau memarahi," tutur dia.

Bermain skateboard tanpa alat pelindung diri, menurut Morebo,17 bukan tanpa resiko. Ia pernah mengalami pergelangan tangan patah sehingga harus dirawat di rumah sakit, dan tiga bulan kemudian baru sembuh. Setelah itu ia kembali bermain skateboard hingga sekarang. Angga 16, pernah dua kali mengalami kaki terkilir. Namun karena sangat suka skateboard, sehingga tidak merasa kapok dan kembali bermain.

baca juga: Kecamatan dan Kelurahan Harus Digerakkan Bagikan Bansos

"Di Temanggung tidak ada perkumpulan skateboard dan tidak ada area bermain ini, jadi kami main di jalanan. Kami juga belajar secara autodidak sejak kelas 3 SD,"katanya

Mereka berharap pemerintah daerah bisa mewadahi aktivitas mereka dengan menyediakan tempat dan membina mereka. Dengan demikian mereka bisa tumbuh menjadi atlet skateboard yang berprestasi dan bisa dibanggakan. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT