13 May 2020, 09:30 WIB

Dianggap Rasis, Bryan Adams Minta Maaf


Antara | Hiburan

PENYANYI Kanada Bryan Adams meminta maaf atas pernyataan 'Para pemakan kelelawar' yang dianggap bernada rasisme terkait covid-19 dalam unggahan di Instagram. Dia mengaku hanya ingin mempromosikan gaya hidup vegan.

"Mohon maaf kepada semua oang yang tersinggung atas unggahanku kemarin. Tidak ada alasan, tapi aku marah-marah soal kekejaman atas binatang di pasar itu dan mungkin saja itu sumber dari virus, dan aku juga mempromosikan veganisme," kata Adams, Selasa (12/5) malam disertai unggahan video saat dia menyanyi lagu Into the Fire.

Dia menegaskan hatinya bersama orang-orang yang tengah berjuang di tengah pandemi covid-19 di seluruh dunia.

Baca juga: Arnold Schwarzenegger Jaga Kebugaran dengan Bersepeda

Sebelumnya, pelantun Please Forgive Me itu mengejutkan para penggemarnya saat dia mengeluarkan komentar 'Para pemakan kelelawar di media sosial, Senin (11/5) setelah serangkaian konsernya dibatalkan akibat pandemi covid-19.

"Malam ini, seharusnya jadi malam pertama pertunjukan di @royalalberthall, tapi terima kasih kepada para pemakan kelelawar, para
penjual binatang di pasar basah, para pencetus virus yang rakus, sekarang seluruh urusan di dunia jadi tertunda, belum lagi mereka yang menderita atau meninggal dunia akibat virus ini," kata Adam dalam tulisan yang menyertai sebuah unggahan video di laman Instagram miliknya, Senin (11/5), yang menampilkan dirinya menyanyikan lagu Cuts Like a Knife.

Penyanyi berusia 60 tahun itu lantas melanjutkan dengan mengucapkan rasa penyesalan dia tidak bisa tampil.

"Menyenangkan bisa menjalani isolasi bersama anak-anak dan keluargaku tapi aku rindu keluargaku yang lain, para anggota band-ku, kru-ku, dan para penggemar," kata dia.

Adam menutup unggahannya dengan meminta fans untuk menjaga kesehatan dan berharap akan segera bertemu lagi dalam waktu dekat.

Amukan Adams tersebut mengonfigurasi sejumlah teori tentang asal-usul covid-19. Salah satunya adalah bahwa covid-19 ditularkan kepada manusia melalui kelelawar (atau trenggiling yang terinfeksi) yang dikonsumsi manusia.

Sejumlah kasus penyakit paling awal ditemukan pada orang-orang yang sering mengunjungi pasar basah di Wuhan, Tiongkok, yang menjual daging segar dan makanan laut, yang menimbulkan kekhawatiran daging yang dibeli di sana bisa menjadi sumbernya.

Namun, banyak kasus awal lainnya terjadi pada orang yang tidak sering mengunjungi pasar tersebut.

Ini adalah salah satu faktor yang membuat orang lain berpendapat bahwa virus itu berasal dari salah satu dari dua laboratorium Wuhan yang
mempelajari virus korona pada kelelawar, baik dalam bentuk buatan manusia atau melalui selang dalam biosekuriti spesimen hewan.

Guardian menulis bahwa Donald Trump dan anggota pemerintahannya telah mendorong teori ini, meskipun komunitas ilmiah hampir secara bulat menolak gagasan bahwa virus adalah buatan manusia.

Bahkan tidak jelas apakah Wuhan adalah daerah di mana virus awalnya ditransfer dari hewan ke manusia dan masih belum ada konsensus ilmiah
tentang sumber wabah tersebut.

Selebritas lain yang secara terang-terangan menyalahkan pasar basah Wuhan adalah Paul McCartney.

Aktivis vegetarian dan hak-hak hewan itu, April lalu, menyerukan penutupan pasar basah di Tiongkok karena disebut-sebut menjadi pangkal penyebaran covid-19.

"Jujur saja, memakan kelelawar memang seperti zaman pertengahan," kata McCartney kepada pembawa acara radio, Howard Stern dikutip Guardian.

Mantan personel The Beatles itu lantas membahas wabah lainnya dari Tiongkok yang sempat meresahkan dunia, seperti SARS hingga flu burung.

"Rasanya tidak salah juga untuk menyalahkan pasar-pasar basah itu. Rasanya SARS, flu burung, dan semua penyakit yang pernah meresahkan kita, sebenarnya buat apa? Hanya karena praktik zaman pertengahan ini. Mereka harus membersihkan tindakan mereka. Jika tidak, saya tidak tahu lagi," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT