13 May 2020, 05:50 WIB

Kenali dan Cegah Jantung Berhenti


MI | Humaniora

SUDDEN cardiac arrest (SCA) atau henti jantung terjadi ketika kondisi jantung berhenti bekerja dan berkontraksi sehingga tidak ada aliran darah yang cukup untuk menghidupi otot jantung dan organ vital lainnya. Itulah yang terjadi pada mendiang penyanyi Didi Kempot, pekan lalu.

Dokter Ivan Noersyid, SpJP, spesialis jantung dari Primaya Hospital Bekasi Timur menjelaskan jantung dilengkapi dengan sistem listrik yang berfungsi untuk membangkitkan implus-implus yang menyebabkan timbulnya kontraksi otot jantung. Henti jantung dapat terjadi dalam kondisi jantung tidak bekerja, tetapi masih terdapat aliran listrik.

 “Jadi, kontraksi jantungnya bergetar saja, tetapi tidak memompa aliran darah,” ujar Ivan dalam keterangan resmi yang diperoleh Media Indonesia, kemarin.

Namun, imbuh Ivan, tidak semua pasien yang mengalami henti jantung akan meninggal dunia sebab henti jantung harus melalui beberapa proses, dimulai dari kematian otot-otot jantung.

Setiap empat menit, terang Ivan, bagian-bagian otot jantung di dalam tubuh akan mengalami kematian. Semakin lama penanganan  seseorang yang mengalami henti jantung, akan semakin banyak otot jantung yang mengalami kematian. Jika mengalami henti jantung dan tidak dilakukan tindakan medis lebih lanjut, orang itu dapat mengalami kematian. 

“Pasien henti jantung masih dapat diselamatkan jika dilakukan evakuasi ke rumah sakit dalam waktu yang cepat. Semakin cepat resusitasi jantung paru (RJP) dilakukan, akan semakin tinggi harapan hidup pasien,” kata Ivan.

Dengan alat elektokardiogram (EKG), bisa diketahui irama jantung yang terlihat. Untuk pasien dengan kondisi irama jantung asistol atau pulseless electrical activity (PEA), pasien akan menjalani tindakan RJP sebagai tindakan pertolongan pertama melalui alat bantu pernapasan, pemberian cairan atau obat.

Jika dalam waktu lebih dari 30 menit tidak ada perubahan dari pasien, kemungkinan harapan hidup pasien sangat kecil. Sebaliknya, jika hasil EKG menunjukkan irama s eperti garis rumput, pasien akan dilakukan defibrilasi atau disetrum sebagai terapi utama selain RJP.

“Jika masih bernapas, pasien akan diberikan bantuan pernapasan seperti pemasangan selang bantu pernapasan berupa ventilator,” kata Ivan.

Bagi pasien dengan riwayat jantung, disarankan rutin minum obat, hindari stres berlebih, dan tidak melakukan aktivitas atau olahraga berat agar terhindar dari henti jantung.

Jika pasien sudah berusia lebih dari 40 tahun, Ivan menyarankan untuk melakukan medical check up dan menerapkan pola hidup sehat meskipun ia tidak punya riwayat penyakit jantung. “Sebab, henti jantung juga dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti diare yang berakibat pada kekurangan cairan berlebih, tension pneumothorax, dan berbagai riwayat penyakit lainnya,” pungkasnya. (RO/H-2)

BERITA TERKAIT