13 May 2020, 06:05 WIB

Lupus, Penyakit dengan Seribu Wajah


Atalya Puspa | Humaniora

SEBUAH survei cepat menemukan bahwa para pejuang lupus harus mendatangi sedikitnya tiga dokter sebelum akhirnya didiagnosis lupus. Hal itu diungkapkan komunitas lupus global dalam akun Instagram @mylupuscorner, bertepatan dengan peringatan Hari Lupus Sedunia pada 10 Mei lalu.

Sarah Faulkner, salah seorang pejuang lupus, mengaku harus mendatangi 12 dokter. Begitu juga dengan Melissa Small yang baru
mengetahui sakit aneh yang dideritanya di tangan dokter yang ketujuh.

“Enam dokter menyalahkan adanya defisiensi besi (kekurangan zat besi) sebelum (dokter) yang ke-7 menyatakan itu lupus,” cuit Melissa Small, ibu dua anak saat menanggapi survei tersebut.

Lupus ialah penyakit yang mengenai sistem imun, yakni sistem imun seharusnya melindungi berbagai infeksi virus, bakteri, atau jamur dari luar, tetapi malah berbalik menyerang sistem dan organ tubuh sendiri.

Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri yang sehat, termasuk kulit, ginjal, otak, sel darah, paruparu, jantung, dan persendian. Karena banyaknya organ yang diserang dan gejalanya mirip dengan penyakit lain, lupus dikenal sebagai penyakit seribu wajah.

“Gejala yang bisanya muncul ialah sering mengalami nyeri sendi, ruam kemerahan di wajah dan tubuh, sering demam, lelah, sariawan, rambut rontok, kulit sensitif terhadap sinar matahari, dan nyeri dada,” terang dokter spesialis penyakit dalam RSCM Alvina Windhani belum lama ini.

Konsultan alergi dan imunologi ini menyatakan, hingga saat ini penyebab lupus belum diketahui secara pasti. Meski tidak dapat disembuhkan, lupus bisa dikendalikan dengan rutin memeriksakan diri ke dokter.

Pasien akan sulit tertolong apabila lupus telah menyerang organ ginjal, paru-paru, hingga otak. “Karena sistem kekebalan pada orang dengan lupus (odapus) bekerja terlalu aktif dan menyerang tubuh sendiri, di masa pandemi covid-19 ini, mereka menjadi kelompok yang rentan terinfeksi,” ucapnya.


Obat sulit didapat

Ketua Syamsi Dhuha Foundation (SDF) Dian Syarief mengungkapkan salah satu obat yang digunakan oleh pasien autoimun, yaitu Hydroxycloroquine (HCQ), yakni kini digunakan sebagai obat untuk pasien covid-19. Hal ini berdampak pada peningkatan harga obat itu hingga dua kali lipat.

Dian berharap pemerintah dapat mengendalikan harga obat itu sehingga tetap terjangkau dan tidak mahal. “Sebelumnya HCQ sulit didapatkan karena tidak diproduksi di dalam negeri, baru di akhir 2019 obat tersebut diproduksi lokal,” kata Dian yang juga seorang   penyandang lupus. (H-2)

 

BERITA TERKAIT