13 May 2020, 07:30 WIB

Kementan Antisipasi Krisis Pangan dengan Penanaman Lebih Cepat


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan antisipasi agar tidak terjadi krisis pangan setelah wabah virus korona, antisipasi tersebut dilakukan melalui dua cara.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan cara untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan yakni penanaman yang lebih cepat dengan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. Dan kerjasama yang lebih intens dari berbagai pihak agar semua dapat berjalan dengan baik.

“Saya siap dihubungi kapan saja untuk hal-hal yang urgent untuk selanjutnya saya akan berkoordinasi dengan para Dirjen," kata Syahrul melalui keterangan tertulisnya, Selasa (12/5).

Krisis pangan juga sudah diwanti-wanti oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Internasional (FAO) yang menyatakan bahwa krisis pangan akan terjadi diberbagai negara terutama negara yang terdampak wabah korona.

"Yang harus kita waspadai adalah rekomendasi dari FAO yang menyatakan bahwa setelah covid-19 ini berlalu akan hadir krisis pangan dunia dan akan datangnya pada kemarau panjang sesuai dengan rekomendasi BMKG," ujar Syahrul.

"Ini tidak boleh terjadi di negeri kita. Kita harus hadapi dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi krisis pangan dunia," tambahnya.

Oleh karena itu solusi dari covid 19 ini adalah medical solution dan food security. Persipan pangan adalah solusi dari wabah ini.

Politisi Partai NasDem tersebut juga terus meyakinkan bahwa pasokan pangan aman dan meminta komitmen bersama dari seluruh daerah untuk tetap fokus pada upaya peningkatan produksi pangan.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi bahwa sasaran tanam padi dan jagung pada 2020 cukup tinggi dibanding realisasi tahun sebelumnya.

"Untuk mencapai keberhasilan sasaran tersebut, pertanaman padi bulan Mei sampai dengan September 2020 harus dioptimalkan,“ jelasnya.

Pada tahun ini secara nasional pemerintah mentargetkan luas tanam padi 11,66 juta ha, berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras sementara untuk jagung, ditargetkan seluas 4,49 juta ha, berpotensi menghasilkan 24,17 juta ton pipilan kering.

“Angka sasaran tersebut diatas diharapkan bisa disampaikan kepada masing-masing Provinsi, Kabupaten/Kota untuk menjabarkan angka tersebut ke tingkat Kecamatan dan sampai tingkat Desa, dengan rincian perbulan. Rincian angka sasaran tersebut dapat dijadikan sebagai komitmen semua pihak yang terlibat di masing-masing tingkatan, dan sebagai acuan dalam mengukur keberhasilan pencapaian sasaran tanam padi," ujar Suwandi.

Disebutkan strategi yang akan dilakukan Pemerintah diantaranya dengan peningkatan indeks pertanaman dengan cara percepatan pengolahan lahan sehingga dapat segera melakukan tanam padi, serta perluasan di areal baru pada lahan kering, lahan rawa-lebak, dan hasil cetak sawah.

Selain itu mengoptimalkan bantuan alsintan prapanen dan pascapanen dan mempercepat pelaksanaan kegiatan APBN dan APBD tahun 2020.

Yang tidak kalah penting adalah meningkatkan pendampingan dan pengawalan pelaksanaan kegiatan di lapangan oleh penyuluh, babinsa, POPT, Pengawas Benih Tanaman, dan Kepala Cabang Dinas di Kecamatan.

Diketahui bahwa potensi panen padi bulan Mei 2020 mencapai 1,25 juta ha, yang dapat menghasilkan beras sebesar 3,43 juta ton. Sedangkan potensi panen padi bulan Juni 2020 mencapai 0,74 juta ha, yang dapat menghasilkan beras sebesar 1,94 juta ton.

Stok beras akhir Juni 2020 diperkirakan masih mencapai 6,84 juta ton. Untuk komoditas jagung, disepakati potensi panen bulan Mei 2020 seluas 0,21 juta ha, yang dapat menghasilkan pipilan kering dengan kadar air 15% sebanyak 0,98 juta ton. (E-1)

BERITA TERKAIT