12 May 2020, 21:25 WIB

Rektor Usakti : Tragedi 12 Mei, Kita Maafkan Tapi tak Dilupakan


Syarief Oebaidillah | Humaniora

KAMPUS reformasi Universitas Trisakti (Usakti) kembali menggelar peringatan 22 tahun Tragedi Trisakti 12 Mei 1998.Peristiwa yang menewaskan empat mahasiswa Usakti ini menjadi momentum peralihan pemerintahan Orde Baru ke Orde Reformasi.

Peringatan tersebut dipimpin langsung Rektor Universitas Trisakti Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, sebagai pembina upacara, dengan dihadiri oleh perwakilan civitas akademika Trisakti, orangtua dan keluarga korban Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 dari Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie.

Kendati berlangsung secara dalam jaringan ( daring) di depan Gedung DR Sjarif Thajeb Usakti , Jakarta ,Selasa (12/5) , upacara penaikan bendera Merah Putih setengah tiang tetap terasa khidmat yang dimulai dengan Lagu Indonesia Raya dan ditutup dengan doa.

Baca juga :22 Tahun Tragedi Semanggi, Negara Makin Tidak Serius Menuntaskan

Pada sambutannya,Ali Ghufronmengutarakan 22 tahun bukan waktu yang pendek kendati telah diupayakan agar penuntasan peristiwa 12 Mei 1998 dapat segera diselesaikan." Namun hingga kini belum juga dapat diselesaikan dengan jelas dan tuntas.Maka mesti ada terobosan-terobosan agar kasus ini dapat diselesaikan secara tuntas, " tegas Ghufron yang juga Guru Besar UGM.

Namun mantan Dirjen SDID Kemenristek Dikti ini mengutarakan sebagai umat beragama untuk saling memaafkan. ” Kepada pelaku peristiwa Tragedi 12 Mei 1998, kita mempunyai slogan, kita dapat memaafkan, namun kita tidak akan pernah melupakan tragedi ini.”tegasnya.

Mantan Wakil Menteri Kesehatan ini menuturkan kronologi Tragedi 12 Mei 1998 di awali krisis moneter Juli 1997 yang berkembang menjadi krisis ekonomi dan krisis politik. Krisis tersebut berimbas dengan mencuatnya tuntutan reformasi pemerintahan dan reformasi di segala bidang.

Mahasiswa menjadi garda terdepan yang mendesak adanya reformasi di Indonesia. "Para mahasiswa di seluruh Indonesia kemudian melakukan berbagai aksi demonstrasi kepada pemerintahan saat itu, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti juga turut andil menyampaikan tuntutannya kepada pemerintahan saat itu” ungkap Ghufron.

Seperti diketahui, aksi mahasiswa Usakti diawali pada tanggal 23 Maret 1998 hingga akhirnya mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei 1998, dengan gugurnya empat mahasiswa Trisakti pada tragedi penembakan di dalam kampus Usakti.

Keempat mahasiswa yang gugur dalam tragedi 12 Mei 1998, memperjuangkan tuntutan reformasi diantaranya pemberantasan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) di Indonesia demi tegaknya demokrasi dan keadilan, kesejahteraan dan kemajuan seluruh rakyat Indonesia.

Ghufron menambahkan tragedi pada sejumlah negara di dunia yang mengorbankan tokoh yang gugur memperjuangkan kebenaran.Hemat dia ada semacam konspirasi siapa sesungguhnya yang bertanggungjawab atas gugurnya para tokoh pejuang tersebut , sehingga masih menjadi misteri yang belum terungkap, di antaranya Martin Luther King, John F Kennedy dan Benigno Aquino (mendiang suami Cory Aquino).

Hingga Cory Aquino yang kemudian menjabat sebagai Presiden Filipina, lanjut Ghufron, tidak berhasil mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan suaminya tersebut.

Namun cita-cita perjuangan mereka masih diperjuangkan dan dikenang di negaranya masing-masing. Dia mengajak seluruh aktivis dan civitas akademika Usakti agar selain memperjuangkan penuntasan peristiwa tragedi 12 Mei 1998, juga memperjuangkan esensi dari reformasi.

Dalam kesempatan itu, Ghufron menyinnggung pandemi Covid 19 yang tengah melanda dunia khususnya Indonesia sehingga mempengaruhi pola dan tata kehidupan di masyarakat

Ali Ghufron mengimbau civitas akademika Usakti menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta mematuhi protokol kesehatan penanganan Covid-19 juga berkontribusi untuk penanganannya.

Hemat dia, Usakti sebagai komunitas ilmiah dapat berkontribusi dengan melakukan penelitian dan inovasi pada konsorsium riset dan inovasi Kemenristek/ Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ) guna mempercepat penanganan Covid19 di Indonesia.”

" Jadi mari kita bejuang bersama kita juga dapat disebut pejuang dan pahlawan dalam memerangi pandemi Covid19 di negeri kita, " pungkasnya .( RO/OL-2)

 

BERITA TERKAIT