12 May 2020, 16:45 WIB

Sains Menjawab Teka-Teki Munculnya Trauma


Abdillah Marzuqi | Weekend

OTAK  tidak hanya memiliki kemampuan kuat untuk mengingat, tetapi juga menghubungkan berbagai peristiwa yang terpisah secara ruang dan waktu. Baru-baru ini, ilmuwan melakukan studi pada tikus terkait bagaimana otak dapat membentuk hubungan dalam jangka lama.

Mari mulai dari sebuah cerita yang mirip dengan adegan film. Seorang perempuan mendengar ledakan. Beberapa saat kemudian, dia menemukan pacarnya ditembak. Sebulan kemudian, perempuan itu masuk ke ruang gawat darurat. Ia panik saat mendengar suara truk sampah. Menurutnya, bakal ada serangan. Otaknya membentuk hubungan mendalam dan langgeng antara suara keras dan pemandangan dahsyat yang dia saksikan.

Para ilmuwan di The Zuckerman Institute at Columbia University yang melakukan penelitian itu menemukan mekanisme dalam hippocampus (bagian otak yang penting untuk daya ingat) yang terus membangun sirkuit bermuatan peristiwa lintas waktu. Meski tampak acak, sirkuit itu sebenarnya membentuk pola yang sangat rumit. Proses itu ternyata membantu otak belajar 'mengasosiasikan'. Pengungkapkan sirkuit itu sekaligus menjadi dasar untuk pemahaman tentang kecemasan, kepanikan, stres panik, maupun gangguan lain terkait trauma. Otak bakal merespon negatif atas peristiwa yang tampaknya netral.

 "Kami tahu bahwa hippocampus penting dalam bentuk pembelajaran yang melibatkan menghubungkan dua peristiwa yang terjadi bahkan hingga 10 hingga 30 detik," kata Attila Losonczy yang menjadi peneliti utama Mortimer B. Zuckerman Mind Brain Behavior Institute Columbia, seperti dikutip sciencedaily.

"Kemampuan ini adalah kunci untuk bertahan hidup, tetapi mekanisme di belakangnya terbukti sulit dipahami. Dengan penelitian pada tikus, kami telah memetakan perhitungan rumit yang dilakukan otak untuk menghubungkan berbagai peristiwa berbeda yang terpisah dalam waktu," lanjutnya.

Hippocampus adalah bagian otak yang penting untuk pembelajaran dan memori. Percobaan sebelumnya pada tikus menunjukkan gangguan hippocampus membuat hewan-hewan tersebut kesulitan belajar mengasosiasikan dua peristiwa yang terpisah puluhan detik.

"Pandangan yang berlaku adalah bahwa sel-sel dalam hippocampus mempertahankan tingkat aktivitas yang persisten untuk mengaitkan peristiwa-peristiwa semacam itu," kata ahli psikiatri klinis Mohsin Ahmed.

Menurutnya, mematikan sel itu akan mengganggu proses pembelajaran.

Peneliti mencitrakan bagian hippocampus tikus ketika hewan itu terpapar oleh dua rangsangan berbeda yakni suara netral yang diikuti embusan udara. Ada jarak 15 detik antara kedua rangsangan itu. Seiring waktu, tikus belajar mengaitkan nada dengan hembusan udara.

Peneliti menggunakan dua mikroskop foton dan pencitraan kalsium fungsional untuk merekam aktivitas ribuan neuron dalam hippocampus secara bersamaan selama beberapa hari masa pengamatan. Peneliti lalu bekerja sama dengan ahli komputasi saraf untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan. (M-4)

BERITA TERKAIT