12 May 2020, 12:33 WIB

Petani Temanggung Barter Sayuran Untuk Dapatkan Beras


Tosiani | Nusantara

BERBAGAI komoditas pertanian di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sepi permintaan sejak pandemi korona. Kondisi ini amat menyusahkan petani. Bahkan banyak petani yang melakukan sistem barter hasil pertaniannya guna mendapatkan beras. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Ade Sri Kuncoro mengungkapkan hal itu, Selasa (12/5).

Dari pantauannya di lapangan, kata Ade, sepinya permintaan pasar saat ini teramat menyusahkan petani. Minimnya permintaan dan harga rendah produk pertanian yang ada membuat sebagian petani tidak lagi memiliki uang untuk membeli beras dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

"Laporan yang kami dapat, malah ada sejumlah petani yang melakukan sistem barter untuk mendapatkan beras. Seperti petani timun menukar timunnya pada petani lain guna mendapat beras," ujarnya.

Humas Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Kabupaten Magelang, Sudarno mengatakan, petani cabai di Kabupaten Magelang telah memanen 1.500 ton cabai hingga Bulan Maret lalu. Akan tetapi, sekitar 30 persen cabai tidak terserap pasar.

Kondisi sepi permintaan, tidak ada pembeli membuat petani akhirnya membiarkan cabai membusuk di lahan pertanian, sebagian tidak dipetik. Soalnya cabai tidak bisa disimpan terlalu lama di gudang.

baca juga: Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 Riau Terbaik Nasional

"Jadi banyak petani pun membiarkan cabainya tidak dipetik dan membusuk di lahan pertanian," katanya.

Data di Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Magelang, luas lahan cabai besar di daerah itu mencapai 1.452 hektar. Sedangkan luas tanaman cabai rawit mencapai 1.973 hektar. Adapun, produktivitas tanaman cabai besar dan rawit, masing-masing mencapai 6,5 ton cabai per hektar, dan 6,2 ton cabai per hektar. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT