12 May 2020, 10:45 WIB

Trump Tepis Kekhawatiran Penyebaran Covid-19 di Gedung Putih


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Senin (11/5), menepis kekhawatiran tentang kemungkinan penyebaran Covid-19 di dalam Gedung Putih. Tetapi, ia mengatakan bahwa dirinya mungkin akan membatasi kontak dengan Wakil Presiden Mike Pence.

Dikutip dari AFP, Selasa (12/5), Trump menyebut Pence berada di karantina setelah sekretaris persnya dinyatakan positif Covid-19, meskipun ia tidak mengatakannya secara langsung.

Baca juga: Covid-19: Singapura Laporkan Kematian ke-21

Seorang juru bicara Pence pun membantah bahwa wakil presiden turut berada di karantina. Tetapi, Trump menyebut hal tersebut ketika ditanya apakah dia mempertimbangkan untuk membatasi kontaknya dengan Pence.

"Saya akan mengatakan bahwa dia dan saya akan membicarakan hal itu," kata Trump. "Selama periode karantina ini, kita mungkin akan berbicara. Saya belum melihatnya sejak itu," ucapnya.

"Kita bisa berbicara melalui telepon," kata Trump tentang Pence. "Dia dinyatakan negatif, jadi kita harus mengerti itu, tapi dia berhubungan dengan banyak orang," tambahnya.

Juru Bicara Pence, Katie Miller, dinyatakan positif untuk virus korona pekan lalu bersama dengan seorang staf Trump.

Tiga anggota satgas Covid-19 Gedung Putih pun telah masuk karantina. Mereka adalah pakar penyakit menular Anthony Fauci, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Robert Redfield dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Stephen Hahn.

Trump berusaha mengecilkan kekhawatiran tentang wabah virus korona di Sayap Barat Gedung Putih. "Semua orang yang datang ke kantor presiden akan diuji dan saya tidak merasakan kerentanan apa pun," kata Trump.

Dalam memo yang dikeluarkan pada Senin, Gedung Putih menginstruksikan semua staf untuk mengenakan masker ketika memasuki Sayap Barat Gedung Putih, kecuali ketika mereka berada di meja mereka.

Tidak seperti sejumlah pemimpin dunia lainnya, Trump yang berusia 73 tahun belum mengenakan masker ketika berada di depan umum.

Amerika Serikat adalah negara yang paling terpukul oleh virus dengan lebih dari 80.000 kematian dan 1,3 juta infeksi. (AFP/OL-6)

BERITA TERKAIT