12 May 2020, 06:35 WIB

Kebijakan BI Topang Stabilitas Rupiah


Des/Ant/X-6 | Ekonomi

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan merebaknya pandemi covid-19 telah menyebabkan nilai tukar rupiah mengalami eskalasi tekanan yang tinggi.

Meski demikian, Menkeu mengakui berbagai kebijakan Bank Indonesia (BI) sejak awal 2020 terus memperkuat seluruh instrumen bauran kebijakan dan menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Pada akhir Februari 2020, nilai tukar masih berada di level 14.318 per dolar AS. Memasuki pekan kedua Maret 2020 melemah ke level 14.778 dan berlanjut hingga menyentuh level terendah pada 23 Maret 2020 di level 16.575 per dolar AS atau melemah 15,8% jika dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya,” ungkap Menkeu dalam konferensi video Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), kemarin.

Bukan hanya itu, BI juga disebut berusaha terus mengendalikan inflasi, mendukung stabilitas sistem keuangan, dan di saat yang sama mencegah penurunan kegiatan ekonomi lebih lanjut dengan berkoordinasi erat bersama pemerintah dan KSSK.

“Bauran kebijakan BI merupakan kebijakan yang akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran 3,0 ± 1% dan sebagai langkah preemptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” sambung Gubernur BI Perry Warjiyo.

Beberapa langkah yang telah dilakukan BI antara lain menurunkan BI7DRR, deposit facility, dan lending facility pada Februari dan Maret 2020 masing-masing sebesar 25 bps.

Di samping itu, BI memperkuat intensitas triple intervention demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamen dan mekanisme pasar, baik secara spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun pembelian SBN dari pasar sekunder.

“BI juga memperpanjang tenor repo SBN hingga 12 bulan dan menyediakan lelang setiap hari untuk memperkuat pelonggaran likuiditas serta
menambah frekuensi lelang FX swap dari tiga kali seminggu menjadi setiap hari guna memastikan kecukupan likuiditas,” ujarnya.

Langkah pelonggaran likuiditas itu diperkuat dengan penurunan giro wajib minimum (GWM) rupiah bagi perbankan yang melakukan kegiatan pembiayaan ekspor-impor, pembiayaan kepada UMKM, dan/atau sektor-sektor prioritas lain. Kurs rupiah, kemarin, ditutup menguat 25 poin atau 0,17% menjadi 14.895 dari hari sebelumnya 14.920 per dolar AS.

“Pasar merespons positif setelah
beberapa negara berencana
mencabut lockdown,” kata Direktur
PT TRFX Garuda Berjangka
Ibrahim Assuaibi di Jakarta,
kemarin. (Des/Ant/X-6)

BERITA TERKAIT