12 May 2020, 06:10 WIB

Reartikulasi Bahasa Agama


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

TIDAK perlu khawatir agama akan meninggalkan atau ditinggalkan pemeluknya. Manusia pada dasarnya adalah makhluk beragama (zoon religion), pasti manusia selalu akan terapung dengan agamanya, apalagi sekarang ilmu pengetahuan semakin bertemu simpul-simpul kebenarannya.

Bahasa agama sudah semakin mendekati bahasa ilmu pengetahuan atau sebaliknya bahasa ilmu pengetahuan semakin mendekati bahasa agama.

Tradisi keagamaan yang hidup dan berkembang di Indonesia perlu terus dirawat dan dipertahankan.

Bahasa agama dan bahasa ilmu pengetahuan di dalam masyarakat selama dua dasawarsa terakhir semakin mendekat. Kesadaran beragama dan sekaligus kesadaran berilmu pengetahuan semakin terasa aktual di dalam masyarakat. Antara keduanya sudah saling membutuhkan.

Sejak 14 abad yang lampau Alquran sudah mengingatkan iqra’ bi ism Rabbik. Pesannya jangan hanya iqra’ (melakukan aktivitas ilmu) tetapi juga bismi Rabbik (melakukan aktivitas agama). Iqra’ tanpa bismi Rabbik akan melahirkan monster dan bismi Rabbik tanpa Iqra’ akan lumpuh.

Pemahaman keagamaan yang berkeindonesiaan dan keindonesiaan yang berkeagamaan harus dipupuk agar bisa memberikan kontribusi positif bagi bangsa yang berpenduduk papan atas terbesar di dunia. Reformasi harus diartikan secara positif untuk pengembangan NKRI ke arah yang lebih produktif dan berdaya saing.

Reartikulasi bahasa agama dalam menghadapi tantangan zaman merupakan suatu keniscayaan. Keagamaan dalam tulisan ini tentu bukan mengembalikan keseluruhan tatanan keindonesiaan. Akan tetapi, pola dialektika budaya dalam lintasan sejarah panjang bangsa Indonesia perlu dipertahankan. Persandingan antara nilai sakral keagamaan dan nilai provan budaya bangsa perlu dipertahankan sebagai watak dan karakter NKRI.

Reartikulasi bahasa agama sesungguhnya tidak lain ialah melakukan penyesuaian penjelasan agama terhadap fenomena perkembangan zaman yang berkekinian. Dalam menata ulang Indonesia modern di era reformasi ini tidak perlu menyingkirkan tradisi nilai-nilai luhur agama.

Dalam wacana rekonstruksi pemahaman agama, sering kali bobot keindonesiaan atau tradisi lokal dituding sebagai praktik bidah, khurafat, dan sinkretisme. Padahal, mungkin sebagian di antaranya masih relevan untuk ditoleransi.

Terhadap hal-hal yang dianggap memang betul-betul tak sejalan atau bertentangan dengan ajaran dasar Islam perlu dilakukan proses bertahap (tadarruj) di dalam menyelesaikannya. Tidak mesti harus melalui jalur pengguntingan atau distorsi yang menyebabkan terjadinya penerimaan terpaksa terhadap ajaran Islam.

Alquran sendiri membutuhkan waktu 23 tahun untuk mengubah masyarakat, padahal di balik Alquran ada Tuhan yang memiliki kekuatan kun fayakun. Nabi sendiri memerlukan dua fase, yaitu fase Makkiyyah dan fase Madaniyyah, di dalam memperkenalkan ajaran Islam.

Fikih Islam yang berkembang dalam lintasan sejarah dunia Islam, khususnya di kawasan Timur-Tengah, sesungguhnya tidak lain adalah interpretasi kultural terhadap ajaran dasar Islam. Imam-imam mazhab menyusun kitab fikihnya dengan mengakomodasi kultur lokal masing-masing. Para pendiri mazhab (aliran fikih) tidak pernah mendeklarasikan kitab fikih yang ditulisnya sebagai mazhab nasional, apalagi internasional. Dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi i, sampai Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah merekomendasikan penda pat mereka sebagai mazhab negara karena mereka sadar tidak mungkin bisa melakukan unifikasi hukum Islam dalam lingkup geografis yang berbeda.

Islam adalah ajaran kemanusiaan. Karena itu, juga harus menempuh cara-cara manusiawi dalam memperkenalkannya. Islam tidak menoleransi cara-cara kekerasan di dalam menyampaikan dakwah.

BERITA TERKAIT