12 May 2020, 05:00 WIB

Jalan tanpa Tujuan untuk Orang Kafir


Ata/H-2 | Ramadan

JIKA Allah berkehendak, Allah bisa menunjukkan mana yang sebenarnya tergolong orang kafir dan munafik. Namun, Allah tidak mau menunjukkannya secara gamblang.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?” Demikian firman Allah dalam Surah Muhammad ayat 29 yang mengawali pembahasan Tafsir Al Mishbah kali ini.

Ayat ini bicara tentang orang kafir dan munafik yang memusuhi Islam. Meski tidak ditunjukkan secara gamblang, Allah memberi petunjuk bagaimana mengenali orang kafir dan munafik, yakni dari cara mereka bertutur kata.

“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” Begitulah bunyi Surah Muhammad ayat 30.

Keraguan itu ialah penyakit. Hati yang sehat itu ialah yang seimbang. Keraguan ialah penyakit dalam hati, termasuk keraguan terhadap Allah. Begitu juga kemunafikan yang merupakan penyakit hati yang harus diobati. Kalau tidak diobati, akan menjadi-jadi.

Allah Maha Mengetahui semua amalan yang diperbuat manusia, bukan hanya amalan yang dapat terlihat, melainkan juga amalan yang dilakukan hati manusia.

Allah akan memperlakukan manusia seperti memperlakukan seorang yang sedang diuji karena sesungguhnya Allah sudah mengetahui segala hal. Allah memberikan ujian untuk tahu dalam kenyataan yang lahir, untuk tahu siapa yang betul-betul berjihad di jalan-Nya dan sabar.

Dalam surah ini, Allah juga berfirman soal orang kafir yang menghalangi jalan manusia menuju Allah. Disebutkan bahwa orang-orang kafir dan yang menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.

Allah menegaskan tidak membutuhkan orang-orang kafir untuk tunduk kepada-Nya. Dia akan menyiksa orang kafir yang sudah mengetahui kebenaran, tapi tidak menjalankan kebenaran tersebut. Sebaliknya, Allah tidak akan menjatuhkan siksa sebelum memberi tahu sebuah kebenaran.

Allah tidak akan mengampuni orang yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Dosa lainnya, bisa jadi ada pintu terbuka untuk diterima.

Sementara itu, jika orang kafir sudah bertobat sebelum mati, Allah bisa menerima tobatnya. Allah akan mengampuni semua dosa, apa pun dosanya, selama dia bertobat dengan tulus.

Sesungguhnya kehidupan ini merupakan jalan tanpa tujuan bagi orang-orang kafir yang tidak mendapatkan pentunjuk Allah. Itu ditegaskan Allah SWT dalam Surah Muhammad ayat 36.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Sebagai kesimpulan, orang-orang munafik sebenarnya bisa ditunjukkan Allah kepada Nabi. Namun, Allah tidak mau menunjukannya. Itu karena merupakan ujian bagi Nabi untuk mengetahui mana yang sebenarnya sungguh-sungguh berjihad di jalan Allah. (Ata/H-2)

BERITA TERKAIT