12 May 2020, 01:15 WIB

Maudy Ayunda Patah Hati dan Cabin Fever


Fathurrozak | Humaniora

RAMADAN tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi aktris Maudy Ayunda, 25. 

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini ia melewatkan Ramadan sebagai penghuni asrama kampus Stanford University, California, Amerika Serikat. Namun, karena merebaknya pandemi virus korona baru (covid-19) di ‘Negeri Paman Sam’, kampus pun ditutup dan Maudy melewati hari-harinya di asrama dalam suasana isolasi.

Pemeran Ainun dalam Habibie & Ainun 3 itu mengatakan sempat dilanda kebimbangan saat pandemi baru saja merebak, antara harus menetap di California dan pulang kampung ke Indonesia. Namun, karena ia mempertimbangkan mata kuliah yang ia ambil, ia pun memutuskan menetap di Stanford.

Maudy merasa sedih ketika harus melakukan pembelajaran secara daring. Ia patah hati karena semua yang baru dimulainya tiba-tiba berubah. Ketika ia baru saja beradaptasi dengan lingkungan akademik dan berkenalan dengan teman-teman kampusnya, sekarang justru harus menyendiri di asrama.

“Perasaan baru kemarin mulai, baru mulai kenal sama teman. Mulai nyaman, eh ditutup dan enggak bisa interaksi. Teman-teman yang dari Amerika pulang ke rumah mereka, interaksi di kampus juga makin ketat, enggak boleh ke kamar satu sama lain, tempattempat yang komunal ditutup,” cerita Maudy dalam siaran langsung bersama Mira Lesmana dalam program Cabin Fever di Instagram, kemarin.

Kendati ingin pulang ke Tanah Air, Maudy kemudian mengurungkan niat itu lantaran dirinya mengambil program joint degree dan perlu memaksimalkan jam pembelajaran. Andai pulang ke Indonesia, ia akan kesulitan untuk mengikuti kelas daring lantaran adanya perbedaan waktu yang signifikan. Akhirnya, ia pun tinggal di asrama mahasiswa.

“Jadi patah hati juga. Biasanya Ramadan itu kan masa yang paling enak sama keluarga. Aku tinggalnya di asrama. Terasa banget cabin fevernya. Tinggal di satu ruangan yang sangat kecil. Jadi, ini sangat terisolasi,” ungkapnya.

Untunglah, imbuh Maudy, dirinya berbagi dapur dengan salah seorang teman di asrama. “Paling enggak tetap ada interaksi,” cetusnya lagi. Meski tengah dalam suasana perkuliahan yang kurang kondusif, ia mengatakan bersyukur menjalani studinya di Stanford. Sebelumnya, Maudy memang sempat dihadapkan pada opsi berkuliah di Stanford atau Harvard.

“Di sini makin terasa tempat yang tepat buat aku. Budayanya sangat inklusif, diskursus menarik, kritis. Stanford sedikit lebih terbuka dan inklusif buat orang yang latar belakangnya bukan bisnis. Lebih ke entrepreneurship, inovasi, enggak terlalu bisnis yang harus investment banking. Jadi, aku cocok dan merasa diterima.”


Passion pendidikan

Di kampus yang prestisius tersebut, Maudy mengambil jurusan bisnis dan pendidikan. Sejak dulu, dara yang juga dikenal sebagai biduanita itu memang memiliki passion terhadap dunia pendidikan. 

Bahkan, ia kerap terinspirasi dengan sosok guru dan sempat bercitacita menjadi salah satunya. Menurut Maudy, ia sangat menyukai sosok inspiratif yang memiliki latar belakang sebagai pengajar dan berhubungan dengan proses belajar. Ia juga sempat bercita-cita menjadi guru hingga SMP.

“Lama kelamaan, setelah aku analisis, yang kusuka dari sosok guru itu mereka bisa inspirasi ketika enabling bantu muridnya berpikir dan belajar. In a way, mungkin aku nanti jadi guru yang bukan di kelas. Aku pengin jalurnya lebih ke sesuatu yang bisa kulakukan dengan edukasi. Ada beberapa proyek juga yang saat ini lagi aku eksplorasi. Ya seputar desain kurikulum,” tuturnya.

Sebagai sosok yang sibuk dengan berbagai bidang, ia juga memberikan kiat untuk meminimalisasi perasaan tidak aman (insecurity). Ia menganggap, ketika datang momen perasaan itu, yang perlu dilakukan ialah dengan membuka wawasan untuk mengetahui kapasitas diri dalam berbagai hal.

“Biasanya, insecure itu terjadi karena kita insecure sama satu dimensi. Misalnya, ‘dia lebih cantik, lebih pintar’. Nah, pada saat memiliki banyak dimensi dalam hidup kita, dan macammacam dimensi ada yang perform ada yang enggak, itu akan menjadikan kita bisa lebih holistis melihat situasi, menurutku itu bisa membantu,” saran Maudy yang mengaku juga masih terus belajar untuk meminimalisasi rasa insecure yang ia miliki. (M-2) 

BERITA TERKAIT