11 May 2020, 18:51 WIB

Harapan Umrah Ribuan Korban First Travel Kembali Terbuka


RO/Micom | Humaniora

DI tengah kesulitan selalu ada jalan. Itulah yang dirasakan Tuti, satu dari ribuan korban calon jamaah First Travel yang gagal berangkat umrah akibat tindak kejahatan pasangan suami istri pendiri perusahaan tersebut.

Impian Tuti, wanita beranak tiga untuk umrah ke tanah suci Mekah, Arab Saudi, tampaknya akan terwujud.

Hal itu setelah Natalia Rusli dari Master Trust Law Firm bergabung menjadi kuasa hukum para korban calon jamaah umrah First Travel. "Saya bersyukur banget berkat perjuangan ibu Natalia saya akhirnya bisa berangkat umrah," ujar Tuti kepada wartawan, Senin (11/5).

Tuti menceritakan sisi kehidupannya menjadi kelam dan impiannya untuk umrah buyar, setelah First Travel tersandung masalah hukum.

Padahal, untuk bisa umrah ia mengaku sudah menyetorkan uang seluruhnya berkisar Rp21 juta yang dikumpulkannya dari hasil menjahit pakaian selama 8 tahun di daerah Pela, Mampang, Jakarta Selatan.

"Saya ini mualaf, begitu masuk Islam kemudian saya kumpulkan uang sekitar 8 tahun dari menjahit untuk umrah. Tiba-tiba ketika waktunya tiba gagal berangkat lantaran perusahaannya bermasalah," kisah Tuti menceritakan pengalamannya.

Sejak First Travel tersandung masalah hukum, Tuti mengaku hanya bisa pasrah dan berserah kepada Allah. "Saya berserah aja kepada Allah. Apalagi, kuasa hukum yang mengurusi kasus ini juga meninggal dunia dan putusan perkaranya di Mahkamah Agung menyatakan aset dan semua barang buktinya jadi rampasan milik negara," ujar Tuti.

Di tengah peliknya persoalan tersebut, lanjut Tuti, Natalia Rusli bergabung. "Saat ibu Natalia bergabung menjadi kuasa hukum, kami diberikan semangat. Dan sejak itu keadaan saya yang mulai ngedrop jadi bersemangat lagi untuk berjuang bersama ibu Natalia dan kawan-kawan lainnya, untuk mendapatkan hak kami. Ibu Natalia orang baik," paparnya.

Natalia adalah kuasa hukum ketiga para calon jamaah First Travel gagal umrah, setelah kuasa hukum sebelumnya Riesqi Rahmadiansyah meninggal dunia ketika persidangan tengah menyidangkan gugatan di Pengadilan Negeri Depok. 

Natalia mengungkapkan kehadirannya membantu calon jamaah umrah First Travel semata-mata murni panggilan hati dan profesi. "Tahu ada kejadian itu lalu saya bersurat ke Kementerian Agama pada 26 November. Dua hari setelah surat itu, pada 28 November, Menteri Agama langsung mengeluarkan statemen yang isinya akan memberangkatkan jamaah First Travel, prioritasnya dimulai dari yang miskin dulu," katanya.

"Adapun yang kaya, menteri bilang itung-itung beramal lah, seperti itu," lanjut Natalia.

Di rapat Komisi VIII, Menteri Agama Fachrul Razi menyatakan siap membantu korban penipuan First Travel dengan memberangkatkan umrah secara bertahap.

Fachrul mengatakan, nama-nama yang layak tersebut bakal didata dan diberangkatkan. Terkait pemberangkatannya, Kemenag akan bekerja sama dengan biro travel haji.

Fachrul mengatakan, pihaknya berupaya menyelesaikan persoalan First Travel selama masa pemerintahan Jokowi-Ma'ruf.

Natalia pun sempat diundang rapat dengar pendapat di DPR. "Di situ kami jelaskan bagaimana supaya pemerintah bersama Komisi VIII menganggarkan biaya untuk para korban First Travel ini," kata Natalia.

Sampai saat ini diakui Natalia, usulannya untuk memberangkatkan para calon jamaah umrah memang belum bisa dilaksanakan. Alasannya karena terbentur masalah wabah virus corona atau Covid-19.

Untuk itu, ia bersama beberapa rekannya menyampaikan telah membentuk yayasan yang diperuntukan membantu para korban First Travel dan orang miskin yang ingin melaksanakan umrah ke tanah suci Mekah. "Yayasan ini non profit, nantinya kami akan merangkul orang-orang yang mampu secara ekonomi untuk berderma bagi fakir miskin, khususnya korban First Travel, untuk umrah," jelas Natalia. (J-1)

BERITA TERKAIT